Sabtu, 02 Mei 2009

METODE KANGURU (TAMBAHAN)

METODE KANGURU UNTUK MERAWAT BAYI PREMATUR


Metode kanguru atau perawatan bayi lekat ditemukan sejak tahun 1983, sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di rumah.


Metode kanguru mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi berat lahir rendah dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu, sehinggga memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar.



KEUNTUNGAN YANG DI DAPAT DARI METODE KANGURU BAGI PERAWATAN BAYI :


-Meningkatkan hubungan emosi ibu – anak

-Menstabilkan suhu tubuh , denyut jantung , dan pernafasan bayi

-Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi dengan lebih baik

-Mengurangi strea pada ibu dan bayi

-Mengurangi lama menangis pada bayi

-Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi

-Meningkatkan produksi asi

-Menurunkan resiko terinfeksi selama perawatan di rumah sakit

-Mempersingkat masa rawat di rumah sakit


APA SAJA KRITERIA BAYI UNTUK METODE KANGURU:


-Bayi dengan berat badan ≤ 2000 g

-Tidak ada kelainan atau penyakit yang menyertai

-Refleks dan kordinasi isap dan menelan yang baik

-Perkembangan selama di inkubator baik

-Kesiapan dan keikut sertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan.


CARA MELAKUKAN METODE KANGURU:


-Beri bayi pakaian, topi , popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu


-Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk , kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak.


-Dapat pula memeakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu , dan bayi diletakkan diantara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh.


-Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi , dapat digunakan handuk atau kain lebar yang elastik atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi.


-Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri , duduk , jalan, makan dan mengobrol. Pada waktu tidur , posisi ibu setengah duduk atau dengan jalan meletakkan beberapa bantal di belakang punggung ibu.


-Bila ibu perlu istirahat , dapat digantikan oleh ayah atau orang lain.


-Dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan persiapan ibu, bayi, posisi bayi , pemantauan bayi , cara pamberian asi , dan kebersihan ibu dan bayi.


© Dr.SuriViana - - www.infoibu.com



````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````


Pernah dengar soal Metode Kangguru, atau Kangaroo Care? Metode ini seringkali dihubungkan dengan kelahiran prematur, atau bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 2,5 kg. Seperti yang ditulis di web infoibu.com ini, Metode Kangguru dijelaskan sebagai berikut:


Metode kanguru atau perawatan bayi lekat ditemukan sejak tahun 1983, sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di rumah...



Sebenarnya Metode Kangguru, atau bisa juga disebut sebagai Skin to Skin Contact, harus dilakukan juga pada bayi normal, baik itu yang lahir secara normal melalui vagina, maupun melalui bedah Caesar. Skin to Skin Contact, atau kontak kulit ke kulit, antara kulit Ibu dengan kulit bayi yang baru lahir, sangat bermanfaat untuk bayi maupun untuk Ibu.


Dalam publikasi yang dirilis oleh Linkage Project yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, disebutkan:


Petugas kesehatan atau pendamping persalinan dapat membantu ibu meletakkan bayinya sedemikian rupa sehingga dapat mengisap susu dengan efektif dan nyaman, tanpa menyakitkan ibu. Bantal atau selimut yang dilipat dan diletakkan di bawah kepala ibu mungkin dapat membantu. Atau ibu dapat berbaring pada satu sisi tubuh dan merangkul bayi di sisinya. Bayi yang dilahirkan dengan operasi ‘caesar’ masih dapat memperoleh manfaat sentuhan kulit-ke-kulit bila didekap di dekat pipi ibunya segera setelah lahir. Dalam hal ini, ketika akan mulai menyusui – yaitu sebaiknya dalam 2 jam setelah operasi - seorang petugas kesehatan yang kompeten perlu membantu ibu dalam meletakkan dan melekatkan bayi agar ibu maupun bayi merasa nyaman. Untuk bayi berat lahir rendah dan bayi sehat namun lahir sebelum waktunya, “perawatan kanguru” merupakan cara perawatan bayi yang efektif.


Perawatan kanguru adalah “perawatan dini dan terus menerus dengan sentuhan kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi baru lahir dalam posisi seperti kanguru”. Perawatan kanguru ini telah terbukti dapat menghasilkan pengaturan suhu tubuh yang efektif dan lama, serta denyut jantung dan pernafasan yang stabil pada bayi dengan berat lahir rendah. Perawatan kulit-ke-kulit mendorong bayi untuk mencari puting dan mengisapnya, mempererat ikatan antara ibu dan bayi, serta membantu keberhasilan pemberian ASI begitu bayi tersebut cukup umur untuk mengisap.



Kontak kulit-ke-kulit sangat berguna untuk memberi bayi kesempatan dalam menemukan puting ibunya, sebelum memulai proses menyusui untuk pertama kalinya. Inilah kunci dari Inisiasi Menyusui Dini, yang akan sangat berpengaruh dalam proses ASI Eksklusif selama 6 bulan setelahnya. Proses IMD, adalah 1 jam pertama yang tak mungkin lagi terulang selama hidup si bayi. Karenanya, sangat penting untuk diperhatikan.


Biasanya, praktek di Rumah Sakit atau Puskesmas, atau pelayanan kesehatan lain yang tidak memperkenalkan dan menyarankan IMD kepada orang tua, langsung menempatkan bayi yang baru lahir dalam kotak berlampu, dan ditempatkan berbeda ruangan dengan si Ibu. Ini adalah praktek yang tidak benar. Ibu dan bayi yang baru lahir harus ditempatkan satu ruangan, mengingat proses menyusui harus langsung dimulai beberapa saat setelah bayi lahir.


Bagaimana proses IMD terjadi?

Dalam publikasi yang sama, yang diterbitkan oleh Linkage Project, Inisiasi Menyusui Dini akan terjadi dengan proses sebagai berikut:


Bayi harus diseka dari kepala hingga ujung kaki dengan kain lembut yang kering dan diletakkan bersentuhan kulit dengan ibunya. Kemudian bayi dan ibu diselimuti dengan kain kering lain. Secara alami, sentuhan segera antara ibu dan bayinya yang baru lahir lewat proses kelahiran normal melalui vagina, bermanfaat meningkatkan kewaspadaan alami bayi serta memupuk ikatan antara ibu dan bayinya. Sentuhan segera seperti ini juga mengurangi perdarahan ibu serta menstabilkan suhu, pernafasan, dan tingkat gula darah bayi.


Bahkan seorang ibu yang memerlukan jahitan setelah melahirkan tetap dapat melakukan sentuhan kulit dengan bayinya. Bayi baru lahir yang lahir sehat secara normal akan terlihat sadar dan waspada, serta memiliki refleks ‘rooting’ dan refleks mengisap untuk membantunya mencari puting susu ibu, mengisapnya dan mulai minum ASI. Kebanyakan bayi baru lahir sudah siap mencari puting dan mengisapnya dalam waktu satu jam setelah lahir.


Bila diletakkan sendiri di atas perut ibunya, bayi baru lahir yang sehat akan merangkak ke atas, dengan mendorong kaki, menarik dengan tangan dan menggerakkan kepalanya hingga menemukan puting susu. Indera penciuman seorang bayi baru lahir sangat tajam, yang juga membantunya menemukan puting susu ibunya. Ketika bayi bergerak mencari puting susu, ibu akan memproduksi oksitosin dalam kadar tinggi. Ini membantu kontraksi otot rahim sehingga rahim menjadi kencang dan dengan demikian mengurangi perdarahan. Oksitosin juga membuat payudara ibu mengeluarkan zat kolostrum ketika bayi menemukan puting susu dan mengisapnya.



Dalam istilah yang lain, Inisiasi Menyusui Dini disebut juga sebagai proses BREAST CRAWL. Dalam sebuah publikasi oleh breastcrawl.org, yang berjudul Breast Crawl: A Scientific Overview, ada beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu menemukan sendiri puting Ibunya, dan mulai menyusui, yaitu:


(1) Sensory Inputs atau indera yang terdiri dari penciuman; terhadap bau khas Ibunya setelah melahirkan, penglihatan; karena bayi baru dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan mengenali puting dan wilayah areola ibunya karena warna gelapnya. Berikutnya adalah indera pengecap; bayi mampu merasakan cairan amniotic yang melekat pada jari-jari tangannya, sehingga bayi pada saat baru lahir suka menjilati jarinya sendiri. Kemudian, dari indera pendengaran; sejak dari dalam kandungan suara ibu adalah suara yang paling dikenalnya. Dan yang terakhir dari indera perasa dengan sentuhan; sentuhan kulit-ke-kulit

antara bayi dengan ibu adalah sensasi pertama yang memberi kehangatan, dan rangsangan lainnya.


(2) Central Component. Otak bayi yang baru lahir sudah siap untuk segera mengeksplorasi lingkungannya, dan lingkungan yang paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus segera dilakukan, karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya, akan lebih sering menangis daripada bayi yang langsung ditempelkan ke tubuh ibunya.


(3) Motor Outputs. Bayi yang merangkak di atas tubuh ibunya, merupakan gerak yang paling alamiah yang dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai puting ibunya, gerakan ini juga memberi banyak manfaat untuk sang Ibu, misalnya mendorong pelepasan plasenta dan mengurangi pendarahan pada rahim Ibu.


Lakukan IMD pada bayi Anda, karena ini adalah pengalaman yang hanya terjadi sekali seumur hidup, dan menentukan keberhasilan ASI Eksklusif selama 6 bulan!


http://asipasti.blogspot.com/2008/02/imd-breast-crawl-skin-to-skin-contact.html

````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````



METODE KANGURU PERAWATAN UNTUK BAYI PREMATUR Aug 25, '08 4:58 AM

for everyone

Menanti kedatangan buah hati adalah saat yang paling mendebarkan bagi sepasang suami istri terlebih mereka yang tergolong masih pasangan baru. Dengan perasaan was-was, calon orangtua berharap anak hasil buah cinta itu terlahir dalam keadaan selamat, sehat, dan dalam kondisi yang normal.


Namun bagaimana jika si kecil terlahir belum pada waktu yang semestinya atau yang lebih dikenal dengan 'lahir prematur'? Bayi prmatur adalah bayi yang lahir tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan berdasarkan perhitungan secara medis, biasanya kurang dari 259 hari atau sekitar 37 minggu terhitung sejak hari terakhir haid ibu.


Hingga kini, jumlah kelahiran prematur di Indonesia mencapai 10-15% total kelahiran setiap tahunnya. Jumlah ini menunjukkan penanganan medis yang masih kurang baik. Ada tiga kategori masa kelahiran bayi berdasarkan usia kehamilan ibu. Yakni, cukup bulan (antara 37-42 minggu), kurang bulan atau premature (kurang dari 37 minggu), lebih bulan (bila kehamilan lebih dari 42 minggu)


Prematur dibagi dalam tiga kategori :

" prematur ekstrim, apabila kurang dari 28 minggu,

" sangat prematur, antara 28-32 minggu,

" prematur, antara 32-37 minggu.


Bayi yang dilahirkan prematur bisa terjadi secara alamiah ataupun buatan. Salah satu penyebab bayi lahir prematur karena pecah ketuban, trauma, atau gizi sang ibu buruk. Usia ibu yang sangat muda (kurang dari 16 tahun) dan konsumsi obat tertentu, rokok, dan alkohol juga berpengaruh.


Tapi yang pasti, bayi prematur harus mendapat penanganan medis yang sangat spesifik dan istimewa dibandingkan bayi yang lahir normal. Ini dilakukan agar pertumbuhannya tetap normal seperti bayi cukup bulan lainnya. Itulah alasan mengapa, bayi yang lahir premature tidak bisa pulang bersama sang ibu. Bila berat badannya sudah mencapai sedikitnya 1.800 gram, mampu menetek langsung atau menggunakan alat bantu cangkir dan sendok, baru bayi dinyatakan siap untuk dipulangkan. "Bila mampu melakukan ini dan keluarga mendukung, maka bayi dapat dipulangkan" jelas dr. Rinawati, SpA.


Biasanya bayi premature akan diletakkan dalam inkubator untuk menjaga suhu tubuh tetap normal, dan bantuan oksigen atau alat bantu nafas. Guna menjaga agar suhu tubuh si bayi tetap hangat, dapat diterapkan dengan menggunakan Metode Kanggur, salah satu cara yang paling efektif lagi murah untuk menghangatkan bayi dengan mendekatkannya ke tubuh ibunya tanpa busana pemisah.


Metode kanguru atau perawatan bayi lekat ditemukan sejak tahun 1983. "Dulu metode ini dianggap hanya untuk orang miskin, karena kalau orang kaya akan ditaruh diinkubator," kata dr.Rinawati. Tapi berdasarkan pengalaman, hasilnya malah lebih bagus metode kangguru, sementara bayi tidak senang berada di inkubator. "Dengan metode ini, bayi juga akan memiliki insting, karena dapat merasakan detak jantung ibunya dan mencari-cari sendiri putingnya," paparnya lagi.


Masih menurut dokter Rinawati, metode kangguru dapat diterapkan sampai si bayi tidak mau, yaitu sekitar usia 36 minggu karena telah membesar. Pada waktu tersebut, dokter akan terlebih dahulu memeriksa retina agar kebutaan dapat dicegah, begitu juga dengan telinga, tulang dan vaksinasi. "Biasanya tunggu hingga bayi beratnya mencapai 2 kg terlebih dahulu," tambahnya.


Selain itu, dokter akan mengecek jumlah dan waktu minum bayi. Misalnya ad libitum atau kemampuan si bayi meminum ASI (kira-kira 180-200ml/kg/hari), lalu kenaikkan berat badan per hari paling tidak 20-30 gr atau 1 minggu sekitar 2 ons dan pemantauan pertumbuhannya."etode ini dianjurkan dilakukan setelah dua minggu kelahiran, dengan jangka waktu hingga berat badan bayi dirasa cukup baik atau sekitar 1.800 gram. Setelah pemeriksaan menunjukkan kondisi baik ditambah dengan kenaikan berat badan setidaknya 20-30 gram setiap hari, barulah si bayi prematur sudah siap untuk dirawat di rumah dan tumbuh seperti layaknya bayi nornal seperti biasa.


Lantas, bagaimanakah cara melakukan metode kanguru tersebut?

- Pertama-tama, beri bayi Anda pakaian, topi, popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu.

-Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak, langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak.

-Dapat pula memakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu dengan posisi bayi diletakkan di antara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh.

-Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi, dapat digunakan handuk atau kain lebar yang elastis atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi.

-Ibu masih dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri, duduk , jalan, makan dan mengobrol. Pada waktu tidur , posisi ibu setengah duduk atau dengan jalan meletakkan beberapa bantal di belakang punggung ibu.

-Bila ibu perlu istirahat, dapat digantikan oleh ayah atau orang lain.

-Dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan persiapan ibu, bayi, posisi bayi, pemantauan bayi, cara pamberian asi, dan kebersihan ibu dan bayi.


Metode kangguru mendatangkan banyak manfaat lain, seperti:

-Meningkatkan hubungan emosi ibu - anak

-Mengurangi stres pada ibu dan bayi

-Mengurangi lama menangis pada bayi

-Mempersingkat masa rawat di rumah sakit


Menghindari kehiran premature bukan tidak mungkin. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari kelahiran bayi yang belum 'cukup umur' tersebut. Paling tidak Anda khususnya calon ibu dapat menerapkan tiga langkah berikut:

1. Persiapkan kehamilan dengan sebaik-baiknya, rajin-rajin cek kesehatan, emosi dan persiapkan dana yang cukup.

2. Persiapkan nutrisi yang seimbang.

3. Berolah raga boleh, tapi jangan yang menyebabkan kelelahan. @ 9 months


http://izoel04.multiply.com/journal/item/47

``````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````



Metode Kangguru Sebagai Pengganti Inkubator


Siapa yang tidak mengenal kangguru? Binatang yang gemar melompat dan selalu melindungi anaknya dalam kantungnya yang besar. Tapi, pernahkah bunda mendengar tentang metode kangguru atau Kangguru Mother Care (KMC)?


KMC adalah sebuah metode perawatan bayi baru lahir dengan cara meletakkan bayi di dada bunda untuk menyalurkan kehangatannya pada si bayi. “Jadi bayi tidak perlu lagi menggunakan inkubator.” jelas dr. Rosalina Dewi Roeslani, SpA dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.


Awalnya metode ini hanya ditujukan untuk bayi-bayi premature dengan berat < 2500 gram (lahir < 37 minggu), namun ternyata metode ini juga bermanfaat bagi bayi-bayi mature.


Adapun manfaat yang bisa didapat dari metode ini, antara lain :


* Mempercepat kenaikan berat badan bayi

Umumnya berat bayi naik 30 gram/ hari, dengan KMC bisa naik sampai 50 gram/hari. Karena makanan yang masuk tidak dipakai untuk menghangatkan tubuhnya dan bisa dipakai untuk menaikkan berat badan.


* Menstabilkan denyut jantung dan pernapasan

Bayi premature suka berhenti bernafas karena otaknya belum matang, dengan KMC ini ia terstimulasi terus untuk bernapas karena mendengar napas ibunya. Begitu juga dengan denyut jantung.


* Memperpanjang waktu tidur

Karena si bayi merasa tenang dalam dekapan ibunya, otomatis waktu tidurnya akan lebih panjang.


* Menciptakan suasana nyaman dan mengurangi stress pada bayi

Bayi yang diberikan KMC, kadar kortisol (hormon stress) nya lebih rendah dibanding bayi yang diletakkan di inkubator. Karena di inkubator ia hanya sendiri sedangkan dengan KMC ia nyaman bersama ibunya seperti waktu dalam kandungan.



TIPS dari dr. Rosi :


* Pastikan tangan dalam keadaan bersih sebelum melakukan KMC


* Anggota keluarga lain, seperti ayah, bibi atau paman bisa menggantikan peran bunda


* Bunda diperkenankan bersenandung untuk menambah kenyamanan


http://forum.tabloidnova.com/showthread.php?t=9739

``````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````



Konsep Dasar Metode Kanguru

Pengertian Metode Kanguru

Kangaroo mother care (KMC), defined as skin-to-skin contact between a mother and her newborn, frequent and exclusive or nearly exclusive breastfeeding, and early discharge from hospital, has been proposed as an alternative to conventional neonatal care for low birthweight (LBW) infants (Conde-Agudello et all, 2000).


Manfaat Metode Kanguru

Secara klinis, dengan cara ini detak jantung bayi stabil dan pernapasannya lebih teratur, sehingga penyebaran oksigen ke seluruh tubuhnya pun lebih baik. Selain itu, cara ini mencegah bayi kedinginan. Bayi dapat tidur dengan nyenyak dan lama, lebih tenang, lebih jarang menangis, dan kenaikan berat badannya menjadi lebih cepat. Pertumbuhan dan perkembangan motorik pun menjadi lebih baik. Cara ini juga mempermudah pemberian ASI, mempererat ikatan batin antara ibu dan anak, serta mempersingkat masa perawatan secara keseluruhan. Bagi orang tua, hal ini turut menumbuhkan rasa percaya diri dan kepuasan bekerja. Perawatan bayi lekat atau metode kanguru ini sederhana, praktis, efektif, dan ekonomis, sehingga bisa dilakukan oleh setiap ibu atau pengganti ibu di rumah ataupun di Puskesmas, terutama dalam mencegah kematian BBLR (Luize, 2003).


Mekanisme Kerja Perawatan Metode Kanguru

Pada dasarnya mekanisme kerja Perawatan Metode Kanguru adalah sama seperti perawatan canggih dalam inkubator yang berfungsi sebagai termoregulator memberikan lingkungan yang termonetral bagi setiap neonatus melalui aliran panas konduksi dan radiasi. Lingkungan termoral adalah lingkungan suhu agar bayi dapat mempertahankan optimal (36,5-37,5 0C) dengan mengeluarkan energi/kalori yang minimal, terutama bagi BBLR yang persediaan atau sumber kalorinya sangat terbatas. Pengaliran panas melalui konduksi adalah identik kontak kulit ibu-bayi seperti dalam inkubator konduksi panas dari badan inkubator ke kulit bayi. Pengaliran panas melalui radiasi adalah udara hangat di dalam inkubator seperti udara hangat dalam/antara selimut/baju kanguru dan bayi. Proses hantaran panas tersebut berlangsung terus-menerus selama dibutuhkan oleh BBLR baik dalam inkubator maupun dalam Perawatan Metode Kanguru, oleh karena itu Perawatan Metode Kanguru hanya dikerjakan selama dibutuhkan oleh neonatus sampai bayi bisa mandiri tanpa harus dirawat dalam inkubator, yaitu sekitar BB mencapai 2500 gram. Sehingga Perawatan Metode Kanguru harus terus menerus dilakukan bergantian oleh bapak, ibu, tante dan neneknya (Usman,2001).


Metode dan Waktu Pelaksanaan

Tahapan penggunaan Metode Kanguru menurut Perinasia meliputi :

1. Persiapan ibu.

a. Membersihkan daerah dada dan perut dengan cara mandi dengan sabun 2-3 kali sehari.

b. Membesihkan kuku dan tangan

c. Baju yang dipakai harus bersih dan hangat sebelum dipakai

d. Selama pelaksanaan Metode Kanguru ibu tidak memakai BH

e. Bagian bawah baju diikat dengan pengikat baju atau kain

f. Memakai kain baju yang dapat direnggang

2. Persiapan bayi

a. Bayi jangan dimandikan, tetapi cukup dibersihkan dengan kain bersih dan hangat

b. Bayi perlu memakai tutup kepala atau topi dan popok selama penggunaan metode ini.

c. Posisi bayi vertikal ditengah payudara atau sedikit ke samping kanan/kiri sesuai dengan kenyamanan bayi serta ibu. Usahakan kulit bayi kontak langsung dengan kulit ibunya terus menerus.

d. Saat ibu duduk atau tidur posisi bayi tetap tegak mendekap ibu

e. Setelah bayi dimasukkan ke dalam baju, ikat kain selendang di sekeliling atau mengelilingi ibu dan bayi.

Prinsip metode ini adalah menggantikan perawatan bayi baru lahir dalam inkubator dengan meniru kanguru. Ibu bertindak seperti ibu kanguru yang mendekap bayinya dengan tujuan mempertahankan suhu bayi stabil dan optimal (36,50C - 37,50C). Suhu optimal ini diperoleh dengan kontak langsung kulit bayi dengan secara terus-menerus. Bayi yang dapat bertahan dengan cara ini adalah yang keadaan umumnya baik, suhu tubuhnya stabil (36,50C - 37,50C), dan mampu menetek. Metode ini dihentikan jika bayi telah mencapai bobot badan minimal 2500 g dan suhu tubuh optimal 370C, dan bayi bisa menetek kuat.


Pelaksanaan Metode Kanguru dapat dilakukan pada waktu:

a. Segera setelah lahir

b. Sangat awal, setelah 10-15 menit

c. Awal, setelah umur 24 jam

d. Menengah, setelah 7 hari perawatan

e. Lambat, setelah bayi bernafas sendiri tanpa O2

f. Setelah keluar dari perawatan inkubator


Kriteria keberhasilan Perawatan Metode Kanguru adalah:

a. Suhu tubuh bayi stabil dan optimal (36,50C -37,50C)

b. Kenaikan berat badan stabil

a. Produksi ASI adekuat

b. Bayi tumbuh dan berkembang optimal

c. Bayi dapat menetek kuat seperti normalnya

http://ferryefendi.blogspot.com/2007/11/konsep-dasar-metode-kanguru.html.

Sabtu, 25 April 2009

Untuk RITA, Akbid URindo

1. Penelitian :

Tingkat Kepuasan Pelayanan Pasien Rawat Inap di Ruang Kebidanan Kandungan Rumah Sakit

Nirmalasuri Sukoharjo

Agus Eka Norma Yunita
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelayanan pasien rawat inap di ruang kebidanan
kandungan rumah sakit Nirmalasuri Sukoharjo. Tingkat kepuasan dinilai dari lima dimensi yaitu, kehandalan,
ketanggapan, jaminan, empati dan tampilan.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional diskriptif dengan rancangan Cross
Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang dirawat di ruang kebidanan dan
kandungan RS Nirmalasuri Sukoharjo sebanyak 40 orang. Teknik pengumpulan data dengan menyebar
kuesioner secara bertahap. Analisis diskriptif dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi, kemudian
diolah dengan menggunakan perhitungan prosentase untuk setiap alternatif jawaban per item pertanyaan
caranya yaitu dengan membagi frekuensi jawaban (f) dengan jumlah skor seluruh item soal (N) dikalikan
100%.
Hasil penelitian dari jumlah sampel 40, tingkat kepuasan pelayanan dilihat dari 5 dimensi secara keseluruhan
di atas 80% (dikatakan puas) tetapi ada indikator-indikator yang mempunyai nilai di bawah 80%, dari dimensi
tampilan/wujud indikator kebersihan ruangan sebesar 70% indikator kenyamanan ruangan sebesar 65,0%,
dari dimensi kehandalan indikator kunjungan dokter sebesar 72,5%, dari dimensi tanggapan indikator
keberadaan petugas saat dibutuhkan sebesar 72,5% dimensi jaminan indikator kesempatan berkonsultasi
dengan dokter tentang kondisi pasien sebesar 72,5%, dimensi empati indikator komunikasi antar dokter
dengan pasien dalam upaya kesehatan sebesar 52,5%.
Merasa pusat terhadap pelayanan dengan nilai 86,69%.

2. Penelitian :
( http://digilib.unila.ac.id/files/disk1/11/laptunilapp-gdl-s2-2006-nurhayati-514-2005_ts_-1.pdf )




IMUNOLOGI
SISTEM IMUN: SATU GAMBARAN RINGKAS
(http://pkukmweb.ukm.my/~danial/Imunologi.htm)

Sistem imun membentuk sistem pertahanan badan terhadap bahan asing seperti mikroorganisma (bakteria, kulat, protozoa, virus dan parasit), molekul-molekul berpotensi toksik, atau sel-sel tidak normal (sel terinfeksi virus atau malignan). Sistem ini menyerang bahan asing atau antigen dan juga mewujudkan peringatan tentang kejadian tersebut supaya pendedahan yang berkali-kali terhadap bahan yang sama akan mencetuskan gerak balas yang lebih cepat dan tertingkat. Keimunan merujuk kepada keupayaan sesuatu individu yang telah sembuh dari sesuatu penyakit untuk kekal sihat apabila terdedah kepada penyakit yang sama untuk kali kedua dan seterusnya. Imunologi ialah cabang bidang perubatan yang berkaitan dengan gerak balas tubuh terhadap antigen. Pengimunan atau pemvaksinan menjana keupayaan untuk bertahan terhadap sesuatu penyakit tanpa mendedahkan tubuh kepada penyakit tersebut. Apabila sistem imun cacat, tertekan atau gagal, seperti dalam Sindrom Kurang Daya Tahan (AIDS) dan penyakit-penyakit kurang keimunan, kesannya ialah jangkitan yang teruk atau boleh membawa maut.

Suatu ciri asas sistem imun ialah keupayaan untuk membezakan bahan-bahan yang wujud secara semula jadi atau normal (diri) dari bahan-bahan atau agen-agen yang masuk ke dalam tubuh dari luar (bukan diri) dan menghasilkan gerak balas terhadap bahan bukan diri sahaja. Ketidakwujudan khusus suatu gerak balas terhadap diri dikenali sebagai toleransi. Peri pentingnya keupayaan untuk membezakan (mendiskriminasi) antara diri dan bukan diri, serta toleransi diri, ditunjukkan dalam penyakit-penyakit autoimun, apabila fungsi-fungsi tersebut gagal. Penyakit-penyakit ini terhasil apabila bahan normal tubuh dicam sebagai asing dan gerak balas imun dihasilkan terhadap bahan-bahan tersebut. Walau bagaimananpun, sistem imun lazimnya amat berkesan membezakan antara diri dan bukan diri.

SEJARAH IMUNOLOGI: Orang-orang pada abad ke-15 mengamalkan menghidu bahan-bahan dari parut pesakit cacar (smallpox) untuk memperolehi keimunan. Walau bagaimanapun inokulasi bahan yang masih aktif didapati amat merbahaya. Edward Jenner membuat cerapan bahawa individu yang dihinggapi cowpox amat jarang dihinggapi smallpox. Pada 1796 Jenner mengaruh cowpox pada seorang kanak-kanak dan kemudian cuba menginfeksi beliau dengan smallpox tetapi keimunan yang diaruh oleh virus cowpox didapati berkesan terhadap smallpox. Louis Pasteur menunjukkan pada 1879 kultur bakteria kolera ayam yang dibiarkan lama telah hilang keupayaan untuk menyebabkan penyakit, dan kultur yang baru tidak dapat menyebabkan penyakit pada ayam yang telah didedahkan kepada kultur lama. Pendedahan kepada mikrob yang mati atau telah dilemahkan ke dalam tubuh untuk membentuk keresistanan dipanggil pemvaksinan (vaccination). Pemvaksinan digunakan terhadap penyakit-penyakit jangkitan bakteria seperti kolera, difteria, tetanus, tifoid, batuk kokol dan jangkitan virus seperti hepatitis B, measles, mumps, poliomielitis, rabies dan demam kuning.

Kerja-kerja Jenner dan Pasteur merupakan titik permulaan bidang imunologi secara saintifik. Paul Ehrlich mencadangkan teori keimunan humor yang menekankan peranan antibodi, iaitu protein-protein yang dihasilkan oleh sel-sel dan dibebaskan ke dalam darah, sebagai agen utama keimunan. Elie Metchnikoff, mencadangkan teori keimunan perantaraan sel, di mana fagosit-fagosit memainkan peranan utama mengesan bahan asing termasuk organisma menginfeksi. Kini diketahui kedua-dua teori adalah betul.


FUNGSI SISTEM IMUN: Sistem imun adalah perlu untuk kemandirian kerana ia membekalkan keupayaan untuk sembuh dari penyakit serta keimunan yang melindungi untuk masa yang lama. Dalam keadaan biasa apabila sistem imun terdedah kepada organisma asing ia bertindak-balas dengan menghasilkan antibodi dan rangsangan limfosit spesifik-antigen, yang membawa kepada pemusnahan mikroorganisma dan peneutralan produk-produk toksik (toksin). Suatu fungsi penting sistem imun ialah mengawasi sel-sel tubuh supaya ia tidak abnormal. Sel-sel terinfeksi virus, sel-sel malignan atau sel-sel individu lain dari spesies yang sama, mempunyai penanda-penanda protein pada permukaan luar yang memberi isyarat kepada sistem imun supaya memusnahkannya. Protein-protein ini tergolong dalam sistem yang dipanggil kompleks kehistoserasian utama (Major histocompatibility complex; MHC).

Gerak balas imun kadangkala boleh memudaratkan. Gerak balas ini boleh menyebabkan proses-proses patologi semasa infeksi dan keautoimunan. Istilah kehiperpekaan atau alergi digunakan apabila gerak balas imun menyebabkan kerosakan tisu dan membahayakan hos. Tindak balas seperti ini terhadap bahan-bahan asing yang lazimnya tidak berbahaya boleh menyebabkan kesan-kesan teruk seperti anafilaksis dan maut. Dalam sesetengah kes, sel-sel normal disalahcam sebagai asing atau tidak normal. Sistem imun mungkin menghasilkan antibodi dan mengaktifkan limfosit terhadap sel-sel tersebut menyebabkan penyakit-penyakit autoimun seperti lupus eritematosus, myasthenia gravis, diabetes dan penyakit Graves.

SEL DAN TISU: Sistem imun terdiri dari jenis gerak balas umum, gerak balas perantaraan antibodi dan perantaraan sel. Sel-sel yang menghasilkan respons kepada antigen ialah limfosit. Terdapat dua jenis limfosit yang berkembang dalam organ limfa primer yang berbeza: Limfosit B (sel B) berkembang dalam sum-sum tulang; limfosit T (sel T) berkembang dalam timus. Sel B terlibat terus dalam penghasilan antibodi. Sel-sel plasma, yang berasal dari sel B, merembeskan antibodi yang beredar dalam saluran darah atau dirembeskan pada permukaan mukosa usus dan saluran pernafasan. Antibodi menyebabkan peneutralan atau lisis organisma luar sel seperti bakteria, virus bebas dan parasit atau membantu fagositosis organisma tersebut oleh neutrofil dan makrofaj.

Sel T terlibat dalam keimunan perantaraan sel. Ada dua kelas sel T: sel T penolong dan sel T sitotoksik. Sel T penolong mengaktifkan limfosit lain, termasuk sel B dan sel T sitotoksik, serta makrofaj, dengan merembeskan bahantara protein larut yang dipanggil sitokina (atau limfokin). Sel T sitotoksik memusnahkan sel sasaran seperti sel terinfeksi virus atau sel tumor. Kedua-dua jenis sel T ini boleh dibezakan berdasarkan kehadiran penanda permukaan yang dipanggil CD4 (pada sel T penolong) dan CD8 (pada sel T sitotoksik). Molekul CD4 juga penting sebagai reseptor untuk HIV, yang menginfeksi sel T penolong. Kedua-dua sel T penolong dan sitotoksik terlibat dalam keimunan perantaraan sel seperti yang berlaku untuk pemusnahan organisma intrasel seperti virus dan bakteria yang boleh memandiri dalam makrofaj. Ini dilakukan dengan pemusnahan sel terinfeksi virus atau pengaktifan makrofaj untuk meningkatkan potensi bakterisidnya oleh sel T.

Limfosit B dan T matang terdapat dalam organ limfa sekunder atau periferi seperti buku limfa, limpa dan tisu limfa mukosa, di mana gerak balas imun diaruh. Sel-sel ini juga beredar dalam saluran darah. Daya gerakan (mobility) merupakan satu aspek penting kelakuan limfosit, kerana ini membolehkan sel-sel tersebut mencari antigen-antigen yang masuk ke dalam tisu. Kebanyakan limfosit berkitar antara tisu limfa dan saluran darah; dari darah sel-sel ini juga masuk ke kawasan-kawasan di mana berlaku keradangan (inflammation) dan bertindak-balas dengan antigen mikrob yang menyebabkan infeksi. Kehadiran limfosit pada bilangan yang tinggi dalam tisu bukan limfa ialah penunjuk terdapatnya gerak balas imun setempat, seperti pada lesi-lesi terinfeksi atau tempat-tempat di mana berlaku gerak balas autoimun.

Satu kumpulan kecil limfosit yang bukan sel B atau sel T dipanggil sel pembunuh semula jadi atau sel-sel NK (natural killer cells). Sel-sel ini terdiri dari limfosit bersaiz besar, mengandungi berbagai granul sitosplasma, dan terdapat terutamanya dalam limpa serta peredaran. Asal usul sel-sel NK tidak pasti tetapi sel-sel ini mampu memusnahkan sel tumor dan sel terinfeksi virus secara spontan tanpa aruhan spesifik. Sel-sel ini juga boleh memusnahkan sel-sel yang diselaputi antibodi spesifik.

Untuk mengaktifkan limfosit, antigen perlu dicam oleh reseptor khusus pada permukaan sel. Reseptor pada permukaan sel B ialah imunoglobulin (atau antibodi). Reseptor sel T hampir serupa seperti tetapi tidak seiras dengan antibodi. Berbeza dari antibodi, reseptor sel T hanya terdapat pada permukaan sel dan tidak dirembeskan. Satu lagi kumpulan protein permukaan yang berinteraksi dengan antigen ialah molekul MHC, yang dikodkan oleh gen-gen MHC. Protein-protein MHC bergabung dengan peptid yang berasal dari antigen protein. Pergabungan ini berlaku pada "lekuk" pergabungan khusus. Protein MHC terdapat dalam dua jenis, molekul MHC kelas I dan kelas II. Sel B boleh mengcam antigen dalam apa bentuk pun, tetapi sel T hanya mengcam antigen pada permukaan sel lain dalam bentuk peptid tergabung kepada molekul MHC. Sel T penolong mengcam peptid pada molekul MHC kelas II tetapi sel T sitotoksik mengcam peptid pada molekul MHC kelas I.

Langkah-langkah yang berlaku semasa antigen protein dicuraikan kepada peptid yang tergabung kepada molekul MHC untuk pengcaman sel T dikenali sebagai pemprosesan dan persembahan antigen (antigen processing and presentation). Pada peringkat induksi gerak balas imun, sel-sel spesifik mempersembahkan antigen, menelan dan menjalankan pencuraian separa ke atas protein asing, kemudian mengekspres pecahan peptid dari antigen tersebut pada permukaan sel tergabung pada lekuk molekul MHC kelas II. Kompleks MHC-peptid ini kemudian dicam oleh reseptor sel T penolong. Dalam gaya yang sama, sel T sitotoksik mengcam pecahan peptid dari virus yang dipersembahkan tergabung dengan molekul MHC kelas I pada permukaan sel terinfeksi virus.

GERAK BALAS IMUN: Apabila antigen asing diperkenalkan ke dalam tubuh untuk kali pertama, gerak balas imun lazimnya mengambil masa 7-14 hari untuk mencapai kemuncak dan lazimnya gerak balas ini tidak tinggi dan berakhir dalam masa yang singkat. Ini ialah gerak balas imun primer. Tetapi jika antigen yang sama diperkenalkan untuk kali kedua, gerak balas sekunder berlaku dan gerak balas ini adalah lebih cepat, lebih tinggi dan tahan lebih lama. Gerak balas sekunder ialah ungkapan fenomenon ingatan imunologi (immunological memory).

Prinsip-prinsip sel yang menjadi asas pengcaman dan gerak balas imun diterangkan melalui teori pemilihan klon yang dikemukakan oleh MacFarlane Burnet pada 1959. Tujahan teori ini adalah seperti berikut: sesuatu antigen asing tertentu bergabung dengan limfosit-limfosit tertentu yang mempunyai reseptor khusus yang boleh berinteraksi dengan antigen tersebut. Dalam populasi limfosit taburan tapak-tapak reseptor terdapat secara klonal; oleh kerana semua reseptor pada sesuatu limfosit mempunyai tapak pergabungan antigen yang serupa, setiap satu limfosit hanya boleh mengcam dan menghasilkan respons terhadap satu antigen. Oleh kerana setiap individu mampu menghasilkan respons terhadap bilangan antigen yang amat tinggi, ini bermakna sistem imun terdiri dari banyak klon-klon limfosit yang berbeza. Antigen akan memilih sel B dan sel T spesifik antigen yang betul (sesuai) dari populasi yang besar ini.

Selepas suatu antigen bergabung dengan reseptor-reseptor spesifik pada limfosit T atau sel B, dan isyarat-isyarat lain yang diperlukan telah dibekalkan, sel tersebut dicetus menjalani proliferasi dan pembezaan (proliferation and differentiation). Sel-sel anak membentuk klon-klon yang lebih besar. Klon sel B membeza menjadi sel plasma penghasil antibodi spesifik, dan klon sel T menjadi sel T penolong atau sitotoksik dengan fungsi keimunan perantaraan sel. Sel-sel lain dalam kedua-dua klon sel B dan sel T membentuk sel-sel ingatan (memory cells) yang berusia panjang. Sel-sel ingatan merupakan sel-sel tersedia untuk rangsangan kali kedua apabila antigen yang sama didedahkan sekali lagi. Oleh itu, apabila sesuatu individu telah pernah menjana gerak balas primer terhadap sesuatu antigen, akan wujud dalam individu tersebut bilangan sel T dan sel B spesifik yang tinggi, yang boleh bertindak dengan antigen pada pendedahan seterusnya. Oleh yang demikian gerak balas sekunder adalah lebih cepat dan berkesan berbanding gerak balas primer.

Dalam keadaan tertentu antigen tidak mengaruh gerak balas imun tetapi sebaliknya menghasilkan keadaan tak responsif spesifik atau toleransi. Ini paling ketara untuk antigen-antigen diri tetapi boleh juga dihasilkan terhadap antigen bukan diri terutamanya jika antigen-antigen tersebut didedahkan kepada janin yang mempunyai sistem imun belum matang atau anak yang baru lahir. Untuk menerangkan toleransi, teori pemilihan klon mencadangkan dalam keadaan tertentu pergabungan dengan antigen menyebabkan kematian limfosit spesifik dan tidak membawa kepada proliferasi. Pada peringkat awal dalam organ-organ yang menjana limfosit, sel-sel yang boleh bertindak-balas dengan penentu (antigen) diri dihapuskan oleh kematian sel terprogram (programmed cell death) (apoptosis). Limfosit dalam organ limfa sekunder boleh dinyahaktifkan tanpa pemusnahan.

ANTIBODI DAN PENGHASILANNYA: Antibodi merupakan molekul-molekul dalam plasma yang berfungsi mengcam dan bergabung dengan antigen asing. Antibodi tergolong ke dalam kumpulan protein yang dipanggil imunoglobulin (Ig). Terdapat lima kelas imunoglobulin berdasarkan perbezaan struktur, iaitu IgG, IgM, IgA, IgD dan IgE. Setiap satu kelas mempunyai ciri-ciri biologi dan fungsi berbeza. Dalam bidang perubatan dan penyelidikan antibodi monoklon banyak digunakan. Antibodi monoklon adalah tulen, homogen, dan dihasilkan oleh sel hibrid yang dibentuk dari perlakuran sel B dan sel tumor dalam kultur. Antibodi monoklon boleh digunakan untuk diagnosis dan terapi, seperti dalam peneutralan toksin dalam peredaran atau penyasaran (targetting) dadah dan radioisotop kepada sel kanser.

Antibodi membanteras infeksi melalui berbagai cara. Organisma ataupun toksin-toksin yang dihasilkan boleh dineutralkan oleh antibodi yang menghalang bahan-bahan tersebut dari bergabung kepada sel. Antibodi juga membantu sel-sel fagosit (makrofaj, neutrofil) menelan bakteria atau menyebabkan lisis organisma dan sel terinfeksi. Ini terhasil dari kerjasama antibodi dengan pelengkap atau sel NK.

IgG merupakan antibodi yang paling banyak, terdapat terutamanya dalam serum, serta cecair dalam badan. IgG adalah benteng pertahanan penting terhadap bakteria, virus atau kulat yang telah memasukki badan. Dalam manusia, IgG merupakan satu-satunya imunoglobulin yang boleh melintas plasenta, oleh itu penting untuk pertahanan bayi baru lahir terhadap infeksi bakteria dan virus.

IgM ialah imunoglobulin bersaiz paling besar dan terdiri dari lima unit yang digabungkan. IgM ialah kelas antibodi yang dihasilkan paling awal dalam gerak balas primer dan ia merupakan pengaktif sistem pelengkap yang efisyen. Sistem pelengkap terdiri dari satu set protein plasma yang apabila diaktifkan dalam urutan yang betul membentuk laluan (lobang) pada membran sel sasaran dan membawa kepada kematian sel. IgM dan pelengkap amat efisyen memusnahkan bakteria Gram negatif atau parasit protozoa yang telah memasukki saluran darah. Pelengkap juga menyebabkan gerak balas keradangan apabila diaktifkan.

IgA merupakan benteng terhadap organisma patogen dalam usus, saluran pernafasan dan saluran urogenital. Sel B penghasil antibodi yang terdapat di kawasan-kawasan ini menghasilkan molekul IgA dimer, yang diangkut melintasi selaput epitelium dan dirembeskan pada permukaan mukosa. IgA rembesan menghalang pergabungan bakteria dan virus kepada epitelium, dan oleh yang demikian mencegah penyakit setempat atau patogen dari merebak ke bahagian tubuh yang lain. Keseluruhannya, IgA adalah antibodi yang banyak di dalam tubuh.

IgE boleh mencetuskan tindak balas alergi cepat seperti asma (lelah). Antibodi ini bergabung dengan permukaan sel-sel mast yang terdapat berhampiran saluran darah. Sel-sel ini mengandungi granul-granul yang terdiri dari histamina dan bahantara keradangan lain dan bahan-bahan ini dibebaskan dengan cepat apabila partikel-partikel seperti debunga atau bulu haiwan bergabung dengan molekul IgE yang tergabung pada permukaan sel mast. Histamina dan bahan-bahan lain yang dibebaskan oleh sel mast menyebabkan gejala-gejala yang dikaitkan dengan tindak balas alergi.

IgD beroperasi bersama IgM sebagai reseptor untuk antigen pada permukaan sel B. Amat sedikit IgD dirembeskan.

Input dari sel T penolong lazimnya diperlukan untuk sel B berkembang menjadi sel plasma penghasil antibodi. Sel T penolong menghasilkan protein-protein larut, atau sitokina, yang dipanggil interleukin (IL) 4, 5 dan 6 yang menyebabkan sel B membahagi dan membeza selepas bergabung dengan antigen. Keperluan sel T penolong menerangkan mengapa penghasilan antibodi berkurangan dalam penyakit AIDS, di mana sel T penolong dimusnahkan oleh infeksi HIV.

KEIMUNAN PERANTARAAN SEL (KPS): Gerak balas kerimunan perantaraan sel (KPS) dikawal oleh sel T, yang menghasilkan sitokina untuk mengaktifkan limfosit, makrofaj, granulosit dan sel-sel sum-sum tulang; sel T juga melisiskan secara terus sel-sel terinfeksi atau tak normal. Sel T memainkan beberapa fungsi dalam KPS. Salah satu fungsi utamanya ialah pertahanan terhadap mikroorganisma yang memandiri dan berganda dalam sel, termasuk bakteria intrasel, kulat dan virus. Mekanisme-mekanisme yang terlibat termasuk lisis sel terinfeksi virus melalui persentuhan terus dengan sel T sitotoksik, dan pengaktifan makrofaj melalui penghasilan interferon oleh sel T penolong. Sel T juga meningkatkan keimunan terhadap parasit dengan mengaruh penghasilan sel mast, IgE dan eosinofil dengan menghasilkan 1L-3 dan 1L-5 serta membantu penghasilan antibodi secara umum.

Sel T memperantarakan tindak balas kehiperpekaan tertangguh, seperti yang terhasil semasa ujian kulit untuk mengesan keimunan terhadap penyakit-penyakit jangkitan bakteria, kulat atau virus, umpamanya ujian tuberkulin dan mumps. Tindak balas-tindak balas seperti ini memainkan peranan penting dalam pembentukan lesi-lesi patologi dalam penyakit-penyakit seperti tuberkulosis dan mumps, serta terlibat dalam kepekaan sentuh (contact dermatitis).

KPS juga menyebabkan penolakan cedung (graf) tisu. Antigen-antigen utama yang dicam pada tisu dalam penolakan cedung ialah antigen-antigen MHC. Sel T juga bertanggungjawab memusnahkan sesetengah sel-sel tumor. Satu lagi jenis sel yang terlibat dalam KPS ialah sel pemusnah teraktif limfokin (lymphokine-activated killer cells; LAK cells) yang juga berupaya memusnahkan sel-sel tumor. Sel-sel LAK diaruh untuk memusnahkan sel-sel tumor setelah diaktifkan oleh 1L-2 yang dihasilkan oleh sel T penolong.

KEIMUNAN CEDUNG: Apabila kulit diambil dari seorang penderma dan dicedungkan kepada penerima, tubuh lazimnya akan menolak cedung (graf) asing. Dalam masa beberapa hari cedung tersebut menjadi merah, kemudian gelap dan akhirnya gugur. Sebaliknya, jika kulit dicedungkan dari satu bahagian ke bahagian lain pada tubuh seseorang, atau dari satu kembar seiras kepada kembarnya, cedung itu diterima. Penolakan cedung ialah suatu gerak balas imun. Ia berlaku kerana wujud perbezaan antigen antara tisu individu berlainan. Antigen-antigen cedung yang paling kuat ialah molekul-molekul kompleks kehistoserasian utama. Kebarangkalian individual tak berkaitan seiras pada MHC dan dengan itu menerima cedung secara spontan ialah 1 dalam 400. Tambahan lagi, terdapat antigen-antigen kehistoserasian minor yang boleh menyebabkan tindak balas penolakan yang lemah.

Oleh itu, kejayaan pencedungan bergantung kepada keupayaan untuk mencegah penolakan organ. Pesakit-pesakit diberikan dadah yang bertindak menghalang respons sel T yang terlibat dalam penolakan cedung. Pada masa kini gabungan terapi yang piawai terdiri dari siklosporin, yang menghalang pengaktifan sel T melalui perencatan penghasilan 1L-2 dan azathioprine, yang menghalang pertumbuhan sel lalu mengurangkan proliferasi sel T dan prednison, yang merencat sintesis sitokina. Dadah FK506 kini sedang dicuba terutamanya dalam cedung hati, kerana ia kurang toksik berbanding siklosporin.

Satu risiko besar pemindahan tisu yang mengandungi limfosit ialah tindak balas cedung-melawan-perumah (graf-versus-host; GVH). Dalam penyakit GVH, sel T sitotoksik berpindah masuk ke dalam tisu hos (penerima) dan memusnahkan sel. Sel T dari cedung hanya boleh menyerang hos jika sistem imun hos tidak sempurna, sama ada disebabkan oleh penyakit atau dadah-dadah penekan keimunan yang diberikan kepada hos untuk mencegah penolakan. GVH merupakan suatu masalah besar apabila sum-sum tulang dipindahkan kepada penerima yang tidak imunokompeten. Limfosit yang dipindahkan menyerang semua tisu hos, dan jika tidak dirawat dengan berkesan, akan merosakkan organ-organ penting seperti jantung dan ginjal.

Minggu, 23 November 2008

UNtuk RiTA, KimiA

BAYI KUNING : APA, MENGAPA, BAGAIMANA ?
{http://gondalgandul.files.wordpress.com/2008/02/bayi-kuning.doc}

Biokimia merupakan ilmu Pengetahuan yang mempelajari pelbagai molekul didalam sel hidup serta organisme hidup, dan dengan reaksi kimianya.Mahasiswa Kebidanan harus bisa memahami dan menguasai pengetahuan biokimia berada dalam posisi kuat untuk menghadapi kasus atau persoalan pokok dalam ilmu kesehatan.
Pada akhir-akhir ini persoalan yang paling sering kami jumpai dilapangan yaitu bayi dengan IKTERUS (Hyperbilirubin). Karena banyaknya kasus ini yang masih belum diketahui penyebab yang pasti dalam ilmu Kedokteran, maka kami sangat tertarik untuk mempelajari yang lebih lanjut secara mendetail tentang IKTERUS NEONATORUM.
Bayi dengan Ikterus Neonatorum bila dalam penanganannya kurang tepat dan benar bisa mengakibatkan kejang, kerusakan otak seumur hidup bahkan sampai terjadi kematian. Prinsip dasar Ikterus pada bayi baru lahir terdapat pada 25% - 50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan. Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologi atau dapat merupakan hal yang pathologis, misalnya pada Inkomptibilitas Rhesus dan Abo, Sepsis, Penyumbatan Saluran empedu, dan sebagainya.
Ikterus baru dapat dikatakan fisiologi apabila sesudah pengamatan dan pemeriksaan. Selanjutnya tidak nenunjukkan dasar pothologis dan tidak mempunyai potensi berkembang menjadi KERN – IKTERUS.
Mengapa mesti anda ketahui ?
• Karena banyaknya kasus IKTERUS NEONATORUM pada bayi baru lahir antara umur 2-3 hari
• Bila penanganannya kurang tepat dan benar bisa mengakibatkan kejang, kerusakan otak seumur hidup bahkan sampai terjadi kematian.
• IKTERUS yang pathologis, misalnya pada inkom patilibus resus dan ABO, Sepsis, Penyumbatan saluran empedu.
Pengertian Ikterus
Ikterus ialah suatu gejala klinik yang sering tampak pada Neonatus.Akibatnya bertambahnya bilirubin dalam serum, maka bayi kelihatan kuning. Derajat kuningnya bayi tidak selamanya sesuai dengan Kadar bilirubin serum. Pemeriksaan Kadar bilirubin sangat penting untuk menentukan keadaan klinik yang di hadapi.
Menurut kepustakaan frekuensi bayi yang menunjukkan Ikterus pada hari pertama sesudah lahir ialah 50% pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi prematur.Frekuensi Neonatus yang kadar bilir
ubinnya melebihi 10 mg% rata-rata 10%.
Pengertian Bilirubin :
 Pigmen empedu utama, merupakan hasil akhir metabolisme pemecahan sel darah merah yang sudah tua ; proses konjugasinya berlangsung dalam hati dan diekskresi kedalam empedu.
Metabolisme dan Exkresi Bilirubin
Pada bayi bilirubin terjadi sebagai hasil degradasi hemoglobin. Proses reaksi enzim mula-mula mengubah hemoglobin menjadi biliferdin dengan bantuan hemeo xygenase.
Biliverdin direduksi menjadi bilirubin dengan bantuan Enzyma biliverdin reduktase.Bilirubin yang terbentuk ini terikat pada albumin dan diangkut ke hepar. Bilirubin ini disebut bilirubin tidak langsung yang mempunyai sifat larut dalam lemak, tidak larut dalam air, dapat melaui placenta, dam memberi reaksi tidak langsung dengan Reagens Hijmans Van den Berg.
Didalam hepar bilirubin tidak langsung diubah menjadi bilirubin langsung, melalui rantai reaksi.
Dalam rantai reaksi ini,yang terjadi didalam sel-sel hepar,bilirubin yang larut dalam lemak itu diubah menjadi bilirubindiglukoronida.yang larut dalamair dan yang memberi reaksipositif dengan reagens Hijmans Van den Berg.Glucoronyl tranferase memindahkan asal glukoronik dari asam uri dan difosfoglukoronik ( Uridin disphosphoglukoronik Acid = UDPGA) ke bilirubin,sehingga menjadi bilirubin diglokoronik.UDPGA ialah satu-satunya bentuk dimana asam glukoronik dapat diperoleh untuk konjugasi
Glukosa sangat penting untuk ekskresibilirubin karena proses konjugasi sangat melibatkan metabolisme karbohidrat dan nukleotida.
Bilirubin langsung tidak larut dalam lemak, tetapi larut dalam air. Bilirubin kemudian dikeluarkan dari hepar melalui Canuliculi empedu kedalam tractus digestivus,kemudian keluar bersama dengan faeces.Kalau terjadi hambatan dalam proses pengeluaran melalui tractus digestivus,dapat terjadi hambatan dalam proses pengeluaranmelalui tractus digestivus,dapat terjadi dekonjugasi bilirubin,dan bilirubin dalam bentuk ini diserap kembali melalui selaput usus masuk kedalam peredaran darah,akhirnya ke hepar untuk mengalami proses yang sama.Gangguan dalam pengeluaran bilirubin langsung ini menyebabkan penumpukan dalam serum yang dapat dikeluarkan melewati ginjal. Bilirubin tidak langsung tidak dapat dikeluarkan melalui ginjal karena larut dalam lemak dan terikat dengan albumin.
Dalam proses pertumbuhan janin sistem pengeluaran hasil degradasi hemoglobin berbeda dengan hal yang telah dijelaskan diatas.Pada janin jaln utama pengeluaran bilirubin melalui hepar dan tractus intestinalis belum berkembang dengan sempurna.Penggunaan jalan placenta hanya dapat dalam bentuk bilirubin tidak langsung.Pada neonatus kematang sistem pengeluaran bilirubin melalui jalan hepar dan usus menentukan terjadinya Ikterus Neonatorum yang fisiologik. Ikterus fisiologik terutama terdapat pada bayi prematur karena kurang kematangan sistem itu.Jadi lamanya masa kehamilan dan derajat kematangan sistem pengeluran bilirubin melalui hepar dan usus sangat menentukan timbulnya Ikterus fisiologik.
Rantai Reaksi Bilirubin Tidak Langsung menjadi Bilirubin langsung
Glukosa Heksokinase glukosa = 6 – fosfat
Glukosa - 6 - fosfat { ATP ADP glukosa-1- fosfat
Fosfoglukomutase
Glukosa-1-1 fosfat Pp. Uridyl tranferase UDP glukosa
p.p
UDP glikosa { UTP
UDP dehydrogenase UDP Asam glukoronik
UDP asa glukoronik { 2 DPN - - - - - - - > 2 DPNH + 2 H + Bilirubin di-
Glukoronyl tranferase glukoroni

MEKANISME PATOFISIOLOGIK KONDISI IKTERUS.
Terdapat 4 mekanisme umum dimana hiperbilirubinemia dan ikterus dapat terjadi :
1.Pembentukan bilirubin secara berlebihan.
2.Gangguan pengambilan bilirubin tak terkonjugasi oleh hati.
3. Gangguan konjugasi bilirubin.
4. Penurunan ekskresi bilirubin terkonjugasi dalam empedu akibat faktor intra hepatik yang bersifat opbtruksi fungsional atau mekanik.
Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi terutama disebabkan oleh tiga mekanisme yang pertama,sedangkan mekanisme yang keempat terutama mengakibatkan terkonjugasi.
PEMBENTUKAN BILIRUBIN SECARA BERLEBIHAN
Penyakit hemolitik atau peningkatan kecepatan destruksi sel darah merah merupakan penyebab utama dari pembentukan bilirubin yang berlebihan. Ikterus yang timbul sering disebut ikterus hemolitik. Konjugasi dan transfer pigmen empedu berlangsungnormal, tetapi suplai bilirubin tak terkonjugasi melampaui kemampuan. Beberapa penyebab ikterus hemolitik yang sering adalah hemoglobin abnormal ( hemoglobin S pada animea sel sabit), sel darah merah abnormal ( sterositosis herediter ), anti body dalam serum ( Rh atau autoimun ), pemberian beberapa obat-obatan, dan beberapa limfoma atau pembesaran ( limpa dan peningkatan hemolisis ). Sebagaian kasus Ikterus hemolitik dapat di akibatkan oleh peningkatan destruksi sel darah merah atau prekursornya dalam sum-sum tulang ( talasemia, anemia persuisiosa, porviria ). Proses ini dikenal sebagai eritropoiesis tak efektif Kadar bilirubin tak terkonjugasi yang melebihi 20 mg / 100 ml pada bayi dapat mengakibatkan Kern Ikterus.
GANGGUAN PENGAMBILAN BILIRUBIN
Pengambilan bilirubin tak terkonjugasi yang terikat abulmin oleh sel-sel hati dilakukan dengan memisahkannya dari albumin dan mengikatkan pada protein penerima. Hanya beberapa obat yang telah terbukti menunjukkan pengaruh terhadap pengambilan bilirubin oleh sel-sel hati, asam flafas pidat ( di pakai untuk mengobati cacing pita ), nofobiosin, dan beberapa zat warna kolesistografik. Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi dan Ikterus biasanya menghilang bila obat yang menjadi penyebab di hentikan. Dahulu Ikterus Neonatal dan beberapa kasus sindrom Gilbert dianggap oleh defisiensi protein penerima dan gangguan dalam pengambilan oleh hati. Namun pada kebanyakan kasus demikian, telah di temukan defisiensi glukoronil tranferase sehingga keadaan ini terutama dianggap sebagai cacat konjugasi bilirubin.
GANGGUAN KONJUGASI BILIRUBIN
Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi yang ringan ( < 12,9 / 100 ml ) yang mulai terjadi pada hari ke dua sampai ke lima lahir disebut Ikterus Fisiologis pada Neonatus. Ikterus Neonatal yang normal ini disebabkan oleh kurang matangnya enzim glukoronik transferase. Aktivitas glukoronil tranferase biasanya meningkat beberapa hari setelah lahir sampai sekitar minggu ke dua, dan setelah itu Ikterus akan menghilang.
Kern Ikterus atau Bilirubin enselopati timbul akibat penimbunan Bilirubin tak terkonjugasi pada daerah basal ganglia yang banyak lemak. Bila keadaan ini tidak di obati maka akan terjadi kematian atau kerusakan Neorologik berat tindakan pengobatan saat ini dilakukan pada Neonatus dengan Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi adalah dengan fototerapi.
Fototerapi berupa pemberian sinar biru atau sinar fluoresen atau ( gelombang yang panjangnya 430 sampai dengan 470 nm ) pada kulit bayi yang telanjang. Penyinaran ini menyebabkan perubahan struktural Bilirubin ( foto isumerisasi ) menjadi isomer-isomer yang larut dalam air, isomer ini akan di ekskresikan dengan cepat ke dalam empedu tanpa harus di konjugasi terlebih dahulFemobarbital ( Luminal ) yang meningkat aktivitas glukororil transferase sering kali dapat menghilang ikterus pada penderita ini.
PENURUNAN EKSKRESI BILIRUBIN TERKONJUGASI
Gangguan eskresi bilirubin, baik yang disebabkan oleh faktor-faktor Fungsional maupun obstruksi, terutama mengakibatkan hiperbilirubinemia terkonjugasi .Karena bilirubin terkonjugasi latut dalam air,maka bilirubin ini dapat di ekskresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin dan kemih berwarna gelap. Urobilinogen feses dan urobilinogen kemih sering berkurang sehingga terlihat pucat. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat di sertai bukti-bukti kegagalan ekskresi hati lainnya, seperti peningkatan kadar fostafe alkali dalam serum, AST, Kolesterol, dan garam-garam empedu. Peningkatan garam-garam empedu dalam darah menimbulkan gatal-gatal pada ikterus. Ikterus yang diakibatkan oleh hiperbilirubinemia terkonjugasi biasanya lebih kuning di bandingkan dengan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi. Perubahan warna berkisar dari kuning jingga muda atau tua sampai kuning hijau bila terjadi obstruksi total aliran empedu perubahan ini merupakan bukti adanya ikterus kolestatik, yang merupakan nama lain dari ikterus obstruktif. Kolestasis dapat bersifat intrahepatik ( mengenai sel hati, kanalikuli, atau kolangiola ) atau ekstra hepatik ( mengenai saluran empedu di luar hati ). Pada ke dua keadaan ini terdapat gangguan niokimia yang sama
BERBAGAI JENIS IKTERUS NEONATORUM
IKTERUS FISIOLOGIK.
Sebagai neonatus , terutama bayi prematur, menunjukkan gejala ikterus pada hari pertama. Ikterus ini biasanya timbul pada hari ke dua, kemudian menghilang pada hari ke sepuluh, atau pada akhir minggu ke dua. Bayi dengan gejala ikterus ini tidak sakit dan tidak memerlukan pengobatan,kecuali dalam pengertian mencegah terjadinya penumpukan bilirubin tidak langsung yang berlebihan Ikterus dengan kemungkinan besar menjadi patologik dan memerlukan pemeriksaan yang mendalam antara lain :
• Ikterus yang timbul dalam 24 jam pertama
• Bilirubin serum meningkat lebih dari 5 mg % per hari
• Bilirubin melebihi 10mg% pada bayi cukup bulan
• Bilirubin melebihi 15mg% pada bayi prenatur
• Ikterus yang menetap sesudah minggu pertama
• Ikterus dengan bilirubin langsung melebihi 1mg%pada setiap waktu.
• Ikterus yang mempunyai hubungan dengan penyakit hemoglobin, infeksi,atau suatu keadaan patologik lain yang telah diketahui.
IKTERUS PATOLOGIK
Ikterus di katakan patologik jikalau pigmennya, konsentrasinya dalam serum, waktu timbulnya, dan waktu menghilangnya berbeda dari kriteria yang telah disebut pada Ikterus fisiologik. Walaupun kadar bilirubin masih dalam batas-batas fisiologik, tetapi klinis mulai terdapat tanda-tanda Kern Ikterus, maka keadaan ini disebut Ikterus patologik.
Ikterus patologik dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu :
 Meningkatnya produksi bilirubin, sehingga melampaui batas kemampuan hepar untuk dikeluarkan.
 Faktor-faktor yang menghalangi itu mengadakan obstruksi pengeluaran bilirubin.
 Faktor yang mengurangi atau menghalangi kemampuan hepar untuk mengadakan konjugasi bilirubin.
IKTERUS HEMOLITIK
Ikterus Hemolitik pada umumnya merupakan suatu golongan penyakit yang disebut Erythroblastosis foetalis atau Morbus Haemolitik Neonatorum ( Hemolytic disease of the new born ). Penyakit hemolitik ini biasanya disebabkan oleh Inkompatibilitas golongan darah itu dan bayi.
a) Inkompatibilitas Rhesus
Penyakit ini sangat jarang terdapat di Indonesia. Penyakit ini terutama terdapat di negeri barat karena 15 % Penduduknya mempunyai golongan darah Rhesus negatif. Di Indonesia, dimana penduduknya hampir 100% Rhesus positif, terutama terdapat dikota besar, tempat adanya pencampuran penduduk dengan orang barat. Walaupun demikian, kadang-kadang dilakukan tranfusi tukar darh pada bayi dengan ikterus karena antagonismus Rhesus, dimana tidak didapatkan campuran darah denagan orang asing pada susunan keluarga orang tuanya.
Bayi Rhesus positif dari Rhesus negatif tidak selamanya menunjukkan gejala klinik pada waktu lahir, tetapi dapat terlihat ikterus pada hari pertama kemudian makin lama makin berat ikterusnya, aisertai dengan anemia yang makin lama makin berat pula. Bila mana sebelum kelahiran terdapat hemolisis yang berat maka bayi dapat lahir dengan oedema umum disertai ikterus dan pembesaran hepar dan lien ( hydropsfoetalis ).
Terapi ditujukan untuk memperbaiki anemia dan mengeluarkan bilirubin yang berlebihan dalam serum, agar tidak terjadi Kern Ikterus.
b) INKOMPATIBILITAS ABO
Penderita Ikterus akibat hemolisis karena inkom patibilitas golongan darah ABO lebih sering ditemukan di Indonesia daripada inkom patibilitas Rh. Transfusi tukar darah pada neonatus ditujukan untuk mengatasi hiperbilirubinemia karena defisiensi G – 6 – PD dan Inkompatibilitas ABO.
Ikteru dapat terjadi pada hari pertama dan ke dua yang sifatnya biasanya ringan. Bayi tidak tampak sakit, anemianya ringan, hepar dan lien tidak membesar, ikterus dapat menghilang dalam beberapa hari. Kalau hemolisiinya berat, sering kali diperlukan juga transfusi tukar darah untuk mencegah terjadinya Kern Ikterus.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan ialah pemeriksaan kadar bilirubin serum sewaktu-waktu.
c) Ikterus hemolitik karena incompatibilitas golongan darah lain.
Selain inkompatibilitas darah golongan Rh dan ABO, hemolisis dapat pula terjadi bila terdapat inkompatibilitas darah golongan Kell, Duffy, MN, dan lain-lain. Hemolisis dan ikterus biasanya ringan pada neonatus dengan ikterus hemolitik, dimana pemeriksaan kearah inkimpatibilitas Rh dan ABO hasilnya negatif, sedang coombs test positif, kemungkinan ikterus akibat hemolisis inkompatibilitas golongan darah lain.
d) Penyakit hemolitik karena kelainan eritrosit kongenital.
Golongan penyakit ini dapat menimbulkan gambaran klinik yang menyerupai erytrhoblasthosis foetalis akibat isoimunisasi. Pada penyakit ini coombs test biasanya negatif. Beberapa penyakit lain yang dapat disebut ialah sperositosis kongenital, anemia sel sabit ( sichle – cell anemia ), dan elyptocytosis herediter.
e) Hemolisis karena diferensi enzyma glukosa-6-phosphat dehydrogenase ( G-6-PD defeciency ).
Penyakit ini mungkin banyak terdapat di indonesia tetapi angka kejadiannya belum di ketahui dengan pasti defisiensi G-6-PD ini merupakan salah satu sebab utama icterus neonatorum yang memerlukan transfusi tukar darah. Icterus walaupun tidak terdapat faktor oksigen, misalnya obat-obat sebagai faktor pencetusnya walaupun hemolisis merupakan sebab icterus pada defesiensi G-6-PD, kemungkinan besar ada faktor lain yang ikut berperan, misalnya faktor kematangan hepar.
IKTERUS OBSTRUKTIVA
Obstruksi dalam penyaluran empedu dapat terjadi di dalam hepar dan di luar hepar. Akibat obstruksi itu terjadi penumpukan bilirubin tidak langsung dan bilirubin langsung.
Bila kadar bilirubin langsung melebihi 1mg%, maka harus curiga akan terjadi hal-hal yang menyebabkan obstruksi, misalnya hepatitis, sepsis, pyelonephritis, atau obstruksi saluran empedu peningkatan kadar bilirubin langsung dalam serum, walaupun kadar bilirubin total masih dalam batas normal, selamanya berhubungan dengan keadaan patologik.
Bisa terjadi karena sumbatan penyaluran empedu baik dalam hati maupun luar hati. Akibatnya kadar bilirubin direk maupun indirek meningkat.
Bila sampai dengan terjadi obstruksi ( penyumbatan ) penyaluran empedu maka pengaruhnya adalah tindakan operatif, bila keadaan bayi mengizinkan.
KERNICTERUS
Encephalopatia oleh bilirubin merupakan satu hal yang sangat di akui sebagai komplikasi hiperbirubinemia.
Bayi-bayi yang mati dengan icterus berupa icterus yang berat, lethargia tidak mau minum, muntah-muntah, sianosis, opisthotonus dan kejang. Kadang gejala klinik ini tidak di temukan dan bayi biasanya meninggal karena serangan apnoea.
Kernicterus biasanya di sertai dengan meningkatnya kadar bilirubintidak langsung dalam serum.
Pada neonatus cukup bulan dengan kadar bilirubin yang melebihi 20 mg% sering keadaan berkembang menjadi kernicterus.
Pada bayi primatur batas yang dapat di katakan cuman ialah 18 mg%, kecuali bila kadar albumin serum lebih dari 3gram%. Pada neomatus yang menderita hyipolia, asidosis, dan hypoglycaemia kernicterus dapat terjadi walaupun kadar bilirubin <16mg%. Pencegahan kernicterus ialah dengan melakukan transfusi tukar darah bila kadar bilirubin tidak langsung mencapai 20mg%
PENCEGAHAN PENANGANAN HIPERBILIRUBINEMIA.
Peningkatan kadar bilirubin tidak langsung didalam darah dapat. Menyebabkan kerusakan sel tubuh, terutama sel otak Kadar bilirubin yang berbahaya itu sangat tergantung pada saat timbulnya ikterus dan kecepatan meningktanya kadar bilirubin tidak langsung. Kadar bilirubin 15mg% poada hari ke 4 kurang berbahaya dibandingkan dengankadar yang sama pada bayi baru lahir atau hari pertama.Karena itu setiap bayi yang menderita ikterus perlu diamati apakah ikterus itu suatu ikterus fisiologik atau akan berkembang menjadi ikterus patologik.
Anamnesis kehamilan dan kelahiran sangat membantu pengamatn klinik ini dan dapat menuntun kita untuk melakukan pemeriksaan yang tepat.
Dalam penanganan ikterus ada 3 cara untuk mencegah dan mengobati,yaitu :
 Mempercepat metabolisme dan pengeluran bilirubin
 Mengubah bilirubin menjadi bentuk yang tidak toksik dan
 yang dapat dikeluarkan melalui ginjal dan usus,misalnya dengan terapi sinar (photo terapi).
 Mengeluarkan bilirubin dari peredaran darah , yaitu denga tranfusi tukar darah.
.MEMPERCEPAT METABOLISME DAN PENGELUARAN BILIRUBIN.
1.Early feeding.Pemberian makanan dini pada neonatus dapat mengurangi terjadinya ikterus fisiologik pada neonatus.
Hal ini mungkin sekali disebabkan karena dengan pemberian Makanan yang dini itu terjadi pendorongan gerakan usus,Dan meconium lebih cepat dikeluarkan,sehingga peredaran Enterohepatik bilirubin berkurang.
2.Pemberian agar-agar. Pemberian agar-agar per os dapat mengurangi ikterus fisiologik.Mekanismenya ialah dengan menghalangi atau mengurangi peredaran bilirubin enterohepatik.
3.Pemberian phenobarbital. Pemberian phenobarbital ternyata dapat menurunkan kadar bilirubin tidak langsung dalam serum bayi.Khasiat phenobarbital ialah mengadakan induksi enzymamicrosoma,sehingga konjugasi bilirubin berlangsung lebih cepat .Pemberian phenobarbital untuk mengobatan hiperbilirubenemia padaneonatus selama tiga hari baru dapat menurunkan bilirubin serum yang berarti. Bayi prematur lebih banyak memberikan reaksi daripada bayi cukup bulan. Phenobarbital dapat diberikan dengan dosis 8 mg/kg berat badan sehari, mula-mula parenteral, kemudian dilanjutkan secara oral. Keuntungan pemberian phenobarbital dibandingkan dengan terapi sinar ialah bahwa pelaksanaanya lebih murah dan lebih mudah. Kerugiannya ialah diperlukan waktu paling kurang 3 hari untuk mendapat hasil yang berarti.

Mengubah bilirubin menjadi bentuk yang tidak toksik dan yang dapat dikeluarkan dengan sempurna melalui ginjal dan traktus digestivus.Contoh paling baik ialah terapi sinar. Creme ( 1958 ) melaporkan bahwa pada bayi penderita icterus yang diberi s inar matahari lebih dari penyinaran biasa, icterus lebih cepat menghilang dibandingkan dengan bayi lain yang tidak disinari. Penyelidikan sarjana-sarjana lain, misalnya Lucey ( 1968 ), Gianta dan Rath ( 1968 ), dan lain-lain menunjukkan bahwa terapi sinar dengan menggunakan sinar buatan juga memberi hasil yang baik. Dengan terapi sinar bilirubin serum dapat turun dengan cepat, 1 sampai 4 mg% dalam 24 jam.
Dengan penyinaran bilirubin dipecah menjadi dipyrole yang kemudian dikeluarkan melalui ginjal dan traktus digestivus. Hasil perusakan bilirubin ternyata tidak toksik untuk tubuh dan dikeluarkan dari tubuh dengan sempurna. Penggunaan terapi sinar untuk mengobati hiperbilirubinemia harus dilakukan dengan hati-hati karena jenis pengobatan ini dapat menimbulkan komplikasai, yaitu dapat menyebabkan kerusakan retina, dapat meningkatkan kehilangan air tidak terasa ( insensible water losess ), dan dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan bayi, walaupun hal ini masih dapat dibalikkan. Kalau digunakan terapi sinar, sebaiknya dipilih sinar dengan spektrum antara 240-480 nannometer, sinar ultraviolet harus dicegah dengan plexiglas dan bayi harus mendapat cairan yang cukup.
Cara penggunaan foto terapi :
 Alat yang dipergunakan lebih atas 10 lampu neon biru masing-masing berkekuatan 20 Watt.
 Susunan lampu ini dimasukkan ke dalam bilik yang diberi ventilasi di sampingnya.
 Dibawah susunan lampu dipasang plexiglass setebal 1 1\2 cm untuk mencegah sinar ultraviolet.
 Alat terapi sinar diletakkan 45 cm di atas permukaan bayi.
 Terapi sinar di berikan selama 72 jam tau sampai kadar bilirubin mencapai 7,5 mg%. Selama terapi sinar mata bayi dan alat kelamin ditutupi dengan bahan yang dapat memantulkan sinar.
Transfusi tukar darah ( exchange transfusion )
Transfusi tukar darah Jakarta di berikan kasus-kasus berikut :
a. Diberikan kepada semua kasus ikterus dengan kadar bilirubin tidak langsung yang lebih dari 20 mg%
b. Pada bayi prematur tranfusi tukar darah dapat diberikan walaupun kadar albumin kurang dari 3,5 gram per 100 ml.
c. Pada kenaikan yang cepat nilirubin tidak langsung serum bayi pada hari pertama ( 0,3 – 1 mg% per jam ). Hal ini terutama terdapat pada inkompatibilitas golongan darah.
d. Anemia yang berat pada neonatus dengan tanda-tanda dekompensasi jantung.
e. Bayi penderita icterus dan kadar hemoglobin darah tali pusat kurang dari 14 mg% dan Coombs test langsung positif.
Alat-alat dan obat-obat yang harus disediakan ialah :
1. Semprit dengan 3 cabang ( 3 way syringe )

2. Semprit 5 ml atau 10 ml ( 2 buah ) untuk glukonas calcicus 10% dan heparin encer ( 2 ml heparin @ 1000 satuan dalam 250 ml NaCi fisiologik )
3. Kateter polyethylene kecil sepanjang 15-20 cm ( atau feeding tube No. 5-8 French )
4. Piala ginjal ( 2 buah ) serta botol kosong untuk menampung darah yang dibuang
5. Alat-alat pembuka vena dan
6. Zat asam, laringskop neonatus, ventilator bayi ( misalnya Penlon infant ventilator ), plastic airway, dan lain-lain yang diperlukan untuk resusitasi.
Teknik transfusi tukar darah
a. Lambung bayi harus kosong, 3-4 jam sebelum transfusi jangan diberi minum. Kalau mungkin, 4 jam sebelum transfusi bayi diberi infus albumin 1 gram/kg berat badan atau 35 ml plasma manusia per kg berat badan.
b. Semua tindakan harus dilakukan dengan cara ansepsis dan antisepsis.
c. Harus diawasi pernafasan, nadi, denyut jantung, dan keadaan umum bayi.
d. Bayi tidak boleh kedinginan. Kalau inkubator bayi kecil, dan transfusi tukar darah tidak dapat dilakukan di dalam inkubator, maka bayi dapat dikeluarkan dan dipanaskan dengan menggunakan lampu 20 Watt dalam jarak 2-3 meter dari bayi
e. Bila masih segar, tali pusat dipotong rata dengan dinding perut. Hati-hati terhadap pendarahan. Sebaiknya sebelum dipotong tali pusat dibuat jahitan seperti lasso pada pangkal tali pusat yang dapat dipergunakan sebagai simpul untuk mencegah pendarahan.
f. Salah satu ujung kateter polyethylene dihubungkan dengan semprit 3 cabang dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam vena umbilicalis. Sebelum dimasukkan ke dalam umbilicalis semprit 3 cabang dan kateter harus diisi dengan larutan heparin encer ( 2 ml heparin @ 1000 satuan/ml dalam 250 ml NaCi fisiologik ). Hal ini perlu untuk mencegah embolus. Kateter dimasukkan dengan hati-hati ke dalam vena umbilicalis sampai terasa halangan ( biasanya sedalam 4-6 cm ), kemudian ditarik lagi sepanjang 1 cm. Dengan cara demikian, darah akan mengalir keluar dengan sendirinya. Ambillah 20 ml untuk pemeriksaan laboratorium.
g. Periksalah tekanan vena umbilicalis dengan mencabut ujung luar kateter dari semprit dan mengangkatnya ke atas perut bayi. Tekanan ini biasanya positif ( darah dalam kateter naik kira-kira 6 cm di atas perut bayi ). Bila ada gangguan pernafasan, dapat terjadi tekanan negatif. Hati-hati jangan terjadi enbolus udara.
h. Keluarkan darah sebanyak 20 ml dan masukkan darah sebanyak 20 ml. Memasukkan dan mengeluarkan darah di perlahan –lahan kira-kira dalam waktu 20 detik.Kalau bayi lemah atau prematur,cukup sebanyak 10-15 ml sekali masuk dan keluar.Banyaknya darah yang dikeluarkan 190 ml per kg berat badan dan yang dimasukkan 170 ml per kg berat badan.
i. Semprit harus sering dibilas dengaan larutan hepatin encer dalam air garam fiologik.
j. Setelah darah masuk sebanyak 150 ml, kateter dibilas dengan larutan heparin encer itu. Kemudian dimasukkan gluconas calcicus 10 % secara perlahan –lahan (2 menit ) ,sesudah itu,dibilas dengan larutan heparin encer ( 1 ml).Denyut jantung harus selalu diawasi.
k. Bila tali pusat telah kering dan tidak dapat dapat dipakai lagi,dapat dipakai vena saphena magna,yaitu cabang vena femoralis.Lokasinya ialah 1 cm dibawah ligamentum inguinalis dan medial dari arteri femoralis.
PERAWATAN SETELAH TRANSFUSI DARAH.
a.vena umbilicus dikompres dengan larutan garam fisiologik supaya tetap basah seandaainya tetap diperlukan transfusi tukar lagi.Kateter siumbilikus dapat ditinggalkan dan ditutup secara steriel.
b.Bayi perlu diberi antibiotik spektrum luas.
c.Kadar haemoglobin dan bilirubin diperiksa setiap 12 jam.
d.Sesudah transfusi bayi dapat diberi terapi sinar.
Kalau perlu,transfusi tukar dapat diulang.
KATABOLISME HEME MENGHASILKAN BILIRUBIN.
Ketika hemoglobin dihancurkan didalam tubuh,globin diuraian menjadi asam amino pembentuknya yang kemudian akan di gunakan kembali ,dan zat besi dari heme akan memasuki depot zat besi yang juga untuk pemakaian kembali.
Bagian porfirin tanpa besi pada heme juga diuraikan,terutama didalam sel-sel retikuloendotel hati,limpa dan sumsum tulang.
Katabolisme heme dari semua protein heme dilaksanakan dalam fraksi mikrosom sel retikuloendotel oleh sebuah sistem enzim yang kompleks yang dinamakan heme oksigenase.Pada saat heme pada protein heme mencapai sitem heme oksigenase, zat besi biasanya sudah teroksidasi menjadi bentuk feri yang merupakan hemin. Sistem heme oksigenase dapat diinduksi oleh substrak. Sistem ini terletak sama dekat dengan sistem pengangkutan elektron mikrosum. Besi fero sekali lagi teroksidasi menjadi bentuk feri. Dengan penambahan lebih lanjut oksigen, ion feri dilepaskan, kemudian karbon monoksida dihasilkan.
Satu gram hemoglobin diperkirakan menghasilkan 35 mg bilirubin. Konversi kimia heme menjadi bilirubin oleh sel retikuloendotel dapat di amati secara in vivo karena warna ungu heme pada hema toma perlahan-lahan di ubah menjadi pigmen bilirubin yang berwarna kuning .
Bilirubin yang terbentuk di jaringan perifer akan di angkut ke hati oleh albumin plasma. Metabolisme bilirubin lebih lanjut terutama terjadi di hati.
PERISTIWA METABOLISME DI BAGI MENJADI 3 PROSES.
 Ambilan bilirubin oleh sel parenkim hati.
 Konjugasi bilirubin dalam retikulum endoplasma halus.
 Sekresi bilirubin terkonjugasi ke dalam empedu.

HATI MENGAMBIL BILIRUBIN.
Bilirubin hanya sedikit larut dalam plasma dan air, tetapi kelarutan bilirubin di dalam plasma di tingkatkan oleh pengikatan nonkovalen dengan albumin. Setiap molekul albumin tampaknya mempunyai satu tapak dengan afinitas tinggi dan satu tapak dengan afinitas rendah untuk pengikatan bilirubin.
Dalam 100 ml plasma, kurang lebih 25 mg bilirubin dapat di ikat erat oleh albumin pada tapak dengan afinitas tinggi. Bilirubin jumlahnya berlebihan hanya terikat secara longgar dan karenanya mudah terlepas serta berdisfusi kedalam jaringan.
Sejumlah senyawa seperti antibiotik dan beberapa obat lainnya bersaing dengan bilirubin untuk dapat berikatan pada tapak pengikatan dengan afinitas tinggi pada albumin. Jadi senyawa – senyawa ini dapat menggeser bilirubin dan memberikan efek klinis yang bermakna..
Di hati bilirubin dilepaskan dari bilirubindari albumin dan diambil pada permukaan sinusoid hepatosit qleh sistem dapat jenuh( saturable) yang diperantarai oleh zat pembawa.Sistem pangangkutan yang difasilitasi ini mempunyai kapasitas yang sangat besar sehingga sekalipun pada keadaan patologik,sistem tersebut tampaknya tidak membatasi kecepatannya dalam metabolisme bilirubin.
Mengingat sistem pengangkutan yang difasilitasi tersebut memungkan adanya ekuibilibrium bilirubin lewat membran sinusoid hepatosit,ambilan neto bilirubin akan bergantung pada pengeluaran bilirubin oleh lintasan metabolik berikutnya.
KONJUGASI BILIRUBIN DENGAN ASAM GLUKURONAT TERJADI DIHATI
Bilirubin bersifat non polar dan akan bertahan didalam sel (misal,terikat dengan lipid) jika tidak dibuat dapat larut didalam air.Hepatosit akan mengubah bilirubin menjadi bentuk polar yang dapat diekskresikan dengan mudah kedalam empedu dengan penambahan molekul asam glukoronat pada bilirubin pada bilirubin tersebut.Proses ini dinamkan konjugasi dan dapat memakai molekul polar yang bukan asam glikironat(misal,sulpat).Banyak hormon steroiddan obat yang juga dikonversikan lewat proses konjugasi menjadi derifat yang dapat larut dalam air untuk mempersipkan ekskresi hormon dan obat tersebut. Hati sedikitnya mengambil dua buah isoform enzim glukuronosiltrasferase yang keduanyabekerja pada bilirubin.Enzim ini terutama terdapat dalam retikulum endoplasma halus dan menggunakan UDP-asam glukuronat sebagai donor glukorunosil.Bilirubin monoglukuronida merupakan intermediat danselanjutnya akan dikonfersikan menjadi bentuk diglukoronida.Meskipun demikian,kalau konjugat bilirubin terdapat secara abnormal didalam plasma manusia (misa,pada ikterus obtruktif) ,bentuk bilirubinbilirubin yang dominan adalah monoglukuronida.
Aktifitas UDP glukuronosiltransferase dapat diinduksi oleh sejumlahobat yang berkasiat dalam klinik,termasuk preparat fenobarbital.
BILIRUBIN DISEKRESIKAN KE DALAM GETAH EMPEDU.
Sekresi bilirubin terkonjugasi kedalam empedu terjadi melalui mekanisme pengangkutan yang aktif,yang mungkin bersifat membatasi kecepatan bagi keseluruh proses metabolisme bilirubin hepatik.Pengangkutan hepatik bilirubin terkonjugasi kedalam empedu bisa diinduksi oleh obat yang sama yang mampu menginduksi konjugasi bilirubin.Jadi sistem konjugasi dan ekskresi bagi bilirubin berlaku sebagai unit fungsional yang terkoordinasi.
Dalam keadaan fisiologis,pada hakekatnyaseluruh bilirubin yang diekskresikan kedalam empedu berda dalam bentuk terkonjugasi.Hanya setelah fototerapi dapat ditemuakan bilirubin tak terkonjugasi dengan jumlah bermakna didalam empedu.Dihati terdapat lebih dari satu sistem untuk menyekresikan kedalam empedu senyawa yang ada secara alami dan senyawa farmasisetelah proses senyawa terjadi.Beberapa dari sistem sekresi ini dipakai bersama bilirubin diglukuronida,tetapi sebagian lainnya bekerja secara bebas.
BILIRUBIN TERKONJUGASI DIREDUKSI MENJADI UROBILINOGEN OLEH BAKTERI USUS.
Setelah bilirubin terkonjugasi mencapai ileum terminalis dan usus besar,glukuronida dilepaskan oleh enzim bakteri yang spesifik(enzim gukuronidase),dan pigmen tersebut selanjutnya direduksioleh flora feses menjadi sekelompok senyawa tetrapirol tidak berwarna yang dinamakan urobilinogen.Diileum terminalis dan usus besar. Diserap kembali dan diekskresikan kembali lewat hati untuk menjalani siklus urobilinogen enterohepatik. Pada keadaan abnormal, khususnya kalau terbentuk pigmen empedu yang berlebihan atau kalau ada penyakit yang mengganggu siklus enterohepatik ini, urobilinogen dapat pula diekskresikan kedalam urine.
Normalnya, sebagaian besar urobilinogen tidak berwarna yang terbentuk di dalam kolon oleh flora feses akan teroksidasi disana menjadi urobilin ( senyawa berwarna ) dan diekskresikan ke dalam feses. Warna feses berubah menjadi lebih gelap ketika dibiarkan terpajan udara disebabkan oleh oksidasi urobilinogen yang tersisa menjadi urobilin.
HIPERBILIRUBINEMIA MENYEBABKAN IKTERUS
Kalau kadar bilirubin di dalam darah melampui 1 mg/dL(17,1umol/L)maka timbul hiperbilirubinemia. Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh produksi bilirubin yang melebihi kemampuan hati normal untuk mengekskresikannya, atau dapat terjadi karena kegagalan hati yang rusak untuk mengekskresikan bilirubin yang di hasilkan dengan jumlah normal. Pada keadaan tanpa kerusakan hati,obstruksi saluran ekskresi hati dengan mencegah ekskresi bilirubin juga akan menimbulkan hiperbilirubinemia. Pada semua keadaan ini, bilirubin bertumpuk di dalam darah dan ketika mencapai suatu konsentrasi tertentu ( yaitu sekitar 2-2,5 mg/dL ), bilirubin akan berdifusi ke dalam jaringan yang kemudian warnanya berubah menjadi kuning. Keadaan ini dinamakan jaundice atau ikterus.
Dalam sejumlah penelitian klinis terhadap ikterus, pengukuran kadar bilirubin serum mempunyai nilai yang penting. Metode pengukuran kuantitatif kandungan bilirubin dalam serum pertama-tama dilakukan oleh Van den Bergh dengan menerapkan tes Ehrlich untuk pemeriksaan bilirubin di urine. Reaksi Ehrlich berdasar pada rangkaian asam sulfanilat diazotisasi ( reagen diazo Ehrlich ) dengan bilirubin, sehingga menghasilkan senyawa azo yang berwarna ungu kemerahan. Bentuk bilirubin yang bereaksi tanpa tambahan metanol ini kemudian dinamakan “ bentuk yang bereaksi langsung ( direk ) “. Bentuk bilirubin yang baru bisa diukur setelah penambahan metanol ini kemudian disebut “ bentuk yang bereaksi tak langsung ( indirek )”.
Bergantung pada tipe bilirubin yang ada di dalam plasma,yaitu bilirubin tak-terkonjugasi ataukah bilirubin terkonjugasi,keadaan hiperbilirubinemia dapat diklasifikasikan masing-masing sebagai hiperbilirubinemia retensi yang disebabkan oleh over produksi atau hiperbilirubinemia regurgitasi yang disebabkan oleh aliran balik ( refluks ) bilirubin ke dalam darah sebagai akibat dari obstruksi biliar.
Karena sifat hidrofobisitasnya hanya bilirubin tak-terkonjugasi yang bisa melewati sawar darah-otak untuk masuk ke dalam sistem saraf pusat, oleh karena itu, ensefalopati akibat bilirubinemia ( kernikterus ). Karena itu, ikterus kolurik ( koluria adalah keadaan terdapatnya derivat empedu di dalam urine ) hanya terjadi pada hiperbilirubinemia regurgitasi, dan ikterus akolurik hanya dijumpai kalau terdapat bilirubin tak-terkonjugasi dengan jumlah yang berlebihan.
Ethiologi
 Peningkatan bilirubin dapat terjadi karena, polycethemia, isoimmun hemolyticdisease, kelainan struktur dan enzim, sel darah merah, keracunan obat ( hemolisis kimia, kortikos temoid, kloram penikol ), hemolisis ekstra vaskuler, ceptalhema toma, ecchymosis.
 Ggn. Fungsi hati, difisiensi glukoromil tranferase, obstruksi empedu / atresia biliarti, infeksi, masalah metabolik, galaktosemia, hypothiroidisme, jamdice Asi.
BAGIAN AKHIR !
Penanganan ikterus neoantorum sangat tergantung pada saat terjadinya ikterus, intensitas ikterus ( kadar bilirubin serum ), jenis bilirubin, dan sebab terjadinya pemeriksaan yang perlu dilakukan didasarkan pada hari timbulnya ikterus dan naiknya kadar bilirubin serum.
Ikterus yang timbul dalam 24 jam pertama
Pemeriksaan perlu dilakukan, baik pada bayi maupun pada Ibu.
Bayi. 1. Kadar bilirubin serum dan kadar albumin
2. Pemeriksaan darh tepi lengkap
3. Golongan darah ( ABO, Rh, dan lain-lain )
4. Coombs test ( langsung dan tidak langsung dengan titernya ).
Direct dan Indirect.
5. Kadar G-6-PD ( atau pemeriksaan skrining terhadap defisiensi G- 6-PD ).
6. Biakan darah atau Kultur darah.

Ibu 1. Golongan darah.
2. Coombs test tidak langsung dengan titernya.
Tindakan
1) Transfusi tukar darah bila telah dipenuhi syarat-syaratnya.
2) Bila belum dipenuhi syarat-syaratnya, diberikan terapi sinar. Bilirubin diperiksa setiap 8 jam. Kalau kenaikan kadar bilirubin tetap 0,3 – 1 mg % per jam, sebaiknya dilakukan transfusi tukar darah, apalagi kalau yang dihadapi inkompatibilitas golongan darah.
Ikterus yang timbul sesudah 24 jam pertama
Ikterus yang timbul sesudah hari pertama, tetapi madih pada hari kedua dan ketiga, biasanya merupakan ikterus fisiologok. Walaupun demikian, harus diawasi dengan teliti. Pemeriksaan bilirubin dilakukan hanya sekali, selanjutnya pengawasan klinik. Dalam hal ini amnesis kehamilan dan kelahiran yang lalu sangat menentukan tindakan selanjtnya. Bila bayi nampak sakit dan ikterus dengan cepat menjadi berat, maka pemeriksaan dan tindakan harus dilakukan seperti pada ikterus pada hari pertama.
Ikterus yang timbul sesudah hari ke- 4
Pada umunya ikterus yang timbul pada hari ke- 4 atau lebih bukan disebabkan oleh penyakit hemolitik neonatus. Kemungkinan besar itu disebabkan oleh infeksi: bakteri, virus, atau protozoa yang terjadi antenatal.Jadi pemeriksaan harus ditujukan ke arah sepsis neonatorum, pyelonephritis, hepatitis neonatorum, toxoplasmosis, dan lain-lain.
Kemungkinan lain ialah pengaruh obat, misalnya obat sulfa tau Novobiocin, dan defisiensi enzyma eritrosit, yaitu defisiensi G-6-PD, Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan ialah kadar bilirubin serum, jenis bilirubin dalam serum, biakan darah, biakan air kencing, dan kalau perlu dilakukan pemeriksaan serologik terhadap virus dan toxoplasma. Pada persangkaan hepatitis neonatorum biopsi hepar perlu dilakukan. Pengobatan diarahkan pada penyakitnya, sekiranya hal itu mungkin. Pada hiperbilirubinemia, kalau yang meningkat itu bilirubin tidak langsung, maka sikap ialah sebagai berikut:
1) Kadar bilirubin lebih dari 20 mg%; dilakukan trasfusi tukar darah.
2) Kadar bilirubin 10-15 mg%: diberikan phenobarbital parenteral, 6 mg per kg BB/hari.
3) Kadar bilirubin 15-20 mg%: diberikan terapi sinar.
Kadar bilirubin diperiksa setiap 24 jam. Bila dalam pemeriksaan selanjutnya kadar bilirubin tetap baik, maka pengobatan dengan phenobarbital dapat ditukar dengan terapi sinar.Demikian pula kalau terapi sinar gagal, sehingga kadar bilirubin mencapai 20 mg%, dilakukan transfusi tukar darah.
Ikterus yang menetap atau bertambah sesudah minggu pertama
Selain dapat ditimbulkan oleh hal-hal yang telah disebut pada ikterus sesudahhari keempat, sebab-sebab lain sangat tergantung pada jenis bilirubin yang meningkat.
Kalau bilirubin terutama dalam bentuk tidak langsung dan faktor-faktor di atas telah disingkirkan, maka harus dipikirkan breasmilk jaundice, hypothyreoidismus, galaktosemia, sindroma Criggler Najjer, dan lain-lain. Kalau bilirubin terutama dalam bentuk bilirubin langsung, haruslah dipikirkan faktor obstruksi, misalnya hepatitis neonatorum dan obstruksi saluran empedu.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan ialah kadar bilirubin darah ( langung dan tidak langsung), biakan darah, biopsi hepar, dan pemeriksaan serologik terhadap virus, toxoplasma, dan lain-lain.
YANG PERLU ANDA PERHATIKAN
- Ajarkan orang tua cara merawat bayi agar tidak terjadi infeksi dan jel;askan tentang daya tahan tubuh bayi.
- Jelaskan pada orang tua pentingnya pemberian asi apabila sudah tidak ikterik.Namun bila penyebabnya dari jaundice asi tetap diteruskan pemberiannya.
- Jelaskan pada ortu tentang komplikasi yang mungkin terjadi dan segera lapor dokter atau perawat.
- Jelaskan ubtuk pemberian immunisasi
- Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Prawiroharjo Sarwono, l976, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
Price Sylvia dan M.Wilson Lorraine, l994, Pato Fisiologi, EGC(Eds.IV),Jakarta.
Anderson Silvia, 1999, Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.
Murray Robert K, MD.PhD, 2001, Biokimia Harper ( Eds.25), EGC, Jakarta

Jumat, 21 November 2008

KDPK untuk RITA

PENGOBATAN (OBAT)
Obat adalah benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh.
Klasifikasi
Obat dapat diklasifikasikan dalam banyak cara, atas dasar mekanisme aksi, efek dan status (legal atau tidak legal).
1. Analgesik obat pembunuh rasa sakit 
a. Non-NSAID antipiretik 
Acetaminophen (juga dikenal dengan parasetamol, atas atas nama dagang Tilenol), yang dapat menyebabkan masalah lever bila digunakan secara kronik
b. NSAIDS 
Aspirin atau ASA (acetylsalicylic acid), yang juga antipiretik
Ibuprofen (juga dikenal dengan nama dagang: Advil, Motrin, Nuprin and Brufen)
c. Opioids, narkotik pembunuh rasa sakit yang kuat dan membuat ketagihan yang juga digunakan sebagai obat rekreasi karena efek euphoriknya. 
Opiates (Morphine, Codeine)
Sintetik dan setengah-sintetik opioids (Heroin, Oxycodone, Vicodin, Demerol, Darvocet, Tramadol, Fentanyl)
2. obat rekreasi biasanya digunakan untuk mengubah emosi atau fungsi tubuh untuk rekreasi 
Alcohol
Nicotine
Caffeine
Hallucinogens (including LSD, Magic mushrooms and Dissociative drug)
Cannabis
MDMA
GHB
Heroin
Cocaine
Inhalant
3. Entheogenic untuk membuat rasa mistik atau shamanistic 
Magic mushrooms
Peyote
Ayahuasca
Amanita muscaria
Salvia divinorum
Datura
4. Obat peningkatan performa (untuk olah raga atau perang). 
Amphetamine
Ephedrine
Cocaine
Anabolic steroids
5. Obat gaya hidup digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup 
Viagra
Rogaine
Antidepressant
6. obat Psychiatric 
a. Antidepressants (Prozac, Paxil)
b. Tranquilizers 
Typical antipsychotic tranquilizers (Thorazine)
Atypical antipsychotic tranquilizers
c. Sedative (Valium)
7. Obat tradisional

PRINSIF PEMBERIAN OBAT
Enam Hal yang Benar dalam Pemberian Obat
  Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman , seorang perawat harus melakukan enam hal yang benar : 
1. klien/pasien yang benar
2. obat yang benar
3. dosis yang benar
4. waktu yang benar
5. rute/cara pemberian yang benar
6. dokumentasi/pencatatan yang benar . 
 
  Pada waktu lampau , hanya ada lima hal yang benar dalam pemberian obat . Tetapi kini ada hal keenam yang dimasukkan , yaitu dokumentasi. Dua hal tambahan klien juga dapat ditambahkan : hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat , hak klien untuk menolak penggunaan sebuah obat . 
  Klien yang benar dapat dipastikan dengan memeriksa identitas klien , dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri . Beberapa klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak berespon , maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada setiap kali pengobatan . Pada keadan gelang identifikasi hilang , perawat harus memastikan identitas klien sebelum setiap obat diberikan . 
  Dalam keadaan dimana klien tidak memakai gelang identifikasi ( sekolah , kesehatan kerja , atau klinik berobat jalan ) , perawat juga bertanggung jawab untuk secara tepat mengidentifikasi setiap orang pada saat memberikan pengobatan.
 
  Obat yang benar berarti klien menerima obat yang telah diresepkan . Perintah pengobatan mungkin diresepkan oleh seorang dokter , dokter gigi , atau pemberi asuhan kesehatan yang memiliki izin praktik dengan wewenang dari pemerintah. Perintah melalui telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang menelepon dalam waktu 24 jam. Komponen dari perintah pengobatan adalah : (1) tanggal dan saat perintah ditulis, (2) nama obat, (3) dosis obat, (4) rute pemberian, (5) frekuensi pemberian, dan (6) tanda tangan dokter atau pemberi asuhan kesehatan. Meskipun merupakan tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah yang tepat, tetapi jika salah satu komponen tidak ada atau perintah pengobatan tidak lengkap, maka obat tidak boleh diberikan dan harus segera menghubungi dokter tersebut untuk mengklarifikasinya ( Kee and Hayes, 1996 ).
  Untuk menghindari kesalahan, label obat harus dibaca tiga kali : (1) pada saat melihat botol atau kemasan obat, (2) sebelum menuang / mengisap obat dan (3) setelah menuang / mengisap obat. Perawat harus ingat bahwa obat-obat tertentu mempunyai nama yang bunyinya hampir sama dan ejaannya mirip, misalnya digoksin dan digitoksin, quinidin dan quinine, Demerol dan dikumarol, dst.
  Dosis yang benar adalah dosis yang diberikan untuk klien tertentu. Dalam kebanyakan kasus, dosis diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. Perawat harus menghitung setiap dosis obat secara akurat, dengan mempertimbangkan variable berikut : (1) tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan (diminta), (2) dalam keadaan tertentu, berat badan klien juga harus dipertimbangkan, misalnya 3 mg/KgBB/hari.
  Sebelum menghitung dosis obat, perawat harus mempunyai dasar pengetahuan mengenai rasio dan proporsi. Jika ragu-ragu, dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
  Waktu yang benar adalah saat dimana obat yang diresepkan harus diberikan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari, seperti b.i.d ( dua kali sehari ), t.i.d ( tiga kali sehari ), q.i.d ( empat kali sehari ), atau q6h ( setiap 6 jam ), sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan. Jika obat mempunyai waktu paruh (t ½ ) yang panjang, maka obat diberikan sekali sehari. Obat-obat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu yang tertentu . Beberapa obat diberikan sebelum makan dan yang lainnya diberikan pada saat makan atau bersama makanan ( Kee and Hayes, 1996 ; Trounce, 1997)
  Implikasi dalam keperawatan mencakup :
· Berikan obat pada saat yang khusus. Obat-obat dapat diberikan ½ jam sebelum atau sesudah waktu yang tertulis dalam resep.
· Berikan obat-obat yang terpengaruh oleh makanan seperti captopril, sebelum makan.
· Berikan obat-obat, seperti kalium dan aspirin, yang dapat mengiritasi perut ( mukosa lambung ) bersama-sama dengan makanan.
· Tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk pemeriksaan diagnostik, seperti endoskopi, tes darah puasa, yang merupakan kontraindikasi pemberian obat.
· Periksa tanggal kadaluarsa. Jika telah melewati tanggalnya, buang atau kembalikan ke apotik ( tergantung peraturan ).
· Antibiotika harus diberikan dalam selang waktu yang sama sepanjang 24 jam ( misalnya setiap 8 jam bila di resep tertulis t.i.d ) untuk menjaga kadar darah terapeutik.
  Rute yang benar perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai. Rute yang lebih sering dari absorpsi adalah (1) oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul . ; (2) sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena ) ; (3) topikal ( dipakai pada kulit ) ; (4) inhalasi ( semprot aerosol ) ; (5)instilasi ( pada mata , hidung , telinga , rektum atau vagina ) ; dan empat rute parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena . 
Implikasi dalam keperawatan termasuk :
· Nilai kemampuan klien untuk menelan obat sebelum memberikan obat – obat per oral . 
· Pergunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat . Teknik steril dibutuhkan dalam rute parenteral . 
· Berikan obat- obat pada tempat yang sesuai . 
· Tetaplah bersama klien sampai obat oral telah ditelan .
Dokumentasi yang benar membutuhkan tindakan segera dari seorang perawat untuk mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan . Ini meliputi nama obat , dosis , rute , waktu dan tanggal , inisial dan tanda tangan perawat . Respon klien terhadap pengobatan perlu di catat untuk beberapa macam obat seperti (1) narkotik – bagaimana efektifitasnya dalam menghilangkan rasa nyeri – atau (2) analgesik non-narkotik , (3) sedativa, (4) antiemetik (5) reaksi yang tidak diharapkan terhadap pengobatan , seperti irigasi gastrointestinal atau tanda – tanda kepekaan kulit. Penundaan dalam mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk mencatat pengobatan atau perawat lain memberikan obat itu kembali karena ia berpikir obat itu belum diberikan (Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).
1.2. Hak – Hak Klien dalam Pemberian Obat 
1). Hak Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat 
Hak ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi ( Informed concent ) , yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan .
2). Hak Klien untuk Menolak Pengobatan 
Klien dapat menolak untuk pemberian suatu pengobatan . Adalah tanggung jawab perawat untuk menentukan , jika memungkinkan , alasan penolakan dan mengambil langkah – langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan . Jika suatu pengobatan dtolak , penolakan ini harus segera didokumentasikan. Perawat yang bertanggung jawab, perawat primer, atau dokter harus diberitahu jika pembatalan pemberian obat
ini dapat membahayakan klien, seperti dalam pemberian insulin. Tindak lanjut juga diperlukan jika terjadi perubahan pada hasil pemeriksaan laboratorium , misalnya pada pemberian insulin atau warfarin ( Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).
  Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat.

Rabu, 19 November 2008

virologi VS kebidanan


PANEL TORCH 

Tujuan : 
Mengetahui adanya infeksi dan status kekebalan terhadap parasit Toxoplasma, virus Rubella, Cytomegalovirus dan virus Herpes tipe 2 yang dapat mempengaruhi kesehatan janin 

Jenis Pemeriksaan : 
Anti-Toxoplasma IgG & IgM, Anti-Rubella IgG & IgM, Anti-CMV IgG & IgM, Anti-HSV2 IgG & IgM

http://www.prodia.co.id/info_terkini/isi_panel.html.

Fase-fase kehamilan 

Tentu saja tidak lengkap jikalau kita membicarakan praktek kehidupan tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi pada saat kita masih ada dalam perut ibu kita tercinta.







Dalam kehamilan, ada beberapa fase yang harus kita cermati dan perhatikan secara khusus. Tapi tidak berarti bahwa si calon ibu tidak boleh ini dan itu. Memang ada fase yang memantang si calon ibu dalam mengkonsumsi makanan tertentu tapi tidak di tiap fase.Ada 3 fase yang harus diketahui, yaitu:
1. Fase trisemester pertama
2. Fase trisemester kedua
3. Fase trisemester ketiga
Fase yang terpenting dalam kehamilan sebenarnya adalah fase petama dan fase ketiga.

Fase trisemester pertamaDimana pada fase pertama adalah fase dimana janin baru mulai terbentuk, dan tidak mendapatkan perlindungan maksimal. Karena kantung ketuban (bumper) baru mulai terbentuk namun belum sempurna, jadi si ibu harus ekstra hati-hati jika masuk ke fase ini. Daya lekat sel telur yang sudah menjadi embrio ke sisi dinding rahim juga belum terlalu kuat, jadi keguguran mungkin saja terjadi jika si ibu tidak menjaga dirinya dengan baik.Pantangan makanan juga terpaksa harus dilakukan pada trisemester pertama ini karena perlu diketahui pula bahwa pada trisemester pertama ini, yang terbentuk adalah otak, mata, struktur tulang belakang dan organ vital lainnya. Saat pembentukan sel-sel ini diharapkan si ibu harus mensterilkan dirinya karena makanan-makanan yang mengandung bakteri dan virus akan dengan mudah menjangkiti si janin. Parahnya jika virus itu adalah virus-virus yang dapat mengganggu perkembangan otak dan pembentukan tulang belakang si janin.
Fase trisemester keduaFase ini adalah fase teraman bagi calon ibu, karena pada fase ini perlindungan bagi si janin sudah terbentuk sempurna. Baik dari pembentukan kantung ketuban, pembentukan otak, mata, tulang belakang dan organ vital lainnya. Pada fase ini adalah fase pengembangan dari yang sudah dibentuk di fase sebelumnya. Jadi jangan kaget bahwa pada fase ini, perkembangan si janin akan sangat pesat bisa jadi hanya berbeda 1 minggu saja tubuh si ibu akan berubah drastis. Fase ini pula si ibu bebas untuk makan apa saja, karena segala yang di makan ibu tidak lagi terlalu berpengaruh kepada si janin.Nah di fase ini pula kontrol ke dokter juga bisa diperjarang, lagipula biasanya vitamin yang diberikan juga sudah tidak ada perubahan lagi. Paling jika ada kasus-kasus khusus yang butuh pertolongan dokter seperti ada nyeri-nyeri yang tidak normal pada rahim selain itu tidak ada yang penting.
Fase trisemester ketigaFase ini merupakan fase yang lumayan beresiko lagi untuk si calon ibu, karena ukuran si janin yang sudah cukup besar dan juga keseimbangan si ibu juga sudah mulai terganggu. Jadi kudu harus dijaga kalau si ibu jangan sampai jatuh, karena hal ini secara langsung akan berakibat juga pada si janin. Terlebih jika sudah masuk ke bulan-bulan akhir, kontrol ke dokter juga harus lebih sering lagi.Untuk makanan, diharapkan si ibu untuk mengurangi konsumsi makanan yang mengandung banyak kaborhidrat dan gula. Karena ke dua unsur ini akan memperbesar ukuran janin, dan persalinan secara normal akan lebih sulit karena ukuran bayi bisa tidak sebanding dengan ukuran maksimal rahim. Bahkan bukan tidak mungkin mengganggu organ tubuh dari calon ibu, misalnya sesak nafas dan lain sebagainya karena ukuran janin yang besar bisa menekan organ-organ tubuh si calon ibu di sekitarnya.


** Yang dipantang di trisemester pertama adalah:
Makanan yang berpotensi tidak matang 100% seperti sate, shabu-shabu, steak, ayam bakar, gado-gado, kredok dan lain sebagainya
Memegang binantang yang menjadi carrier virus seperti kucing, burung dan anjing. Karena dipercaya akan dapat menginfesikan virus toksoplasma.
Menggendong balita, terlebih untuk balita yang sedang flu. Sadar atau tidak, bahwa balita telah menjadi carrier virus rubella. Terutama pada air liur mereka, jadi berhati-hatilah.


Semoga artikel ini berguna bagi calon ibu yang akan segera menimang bayi. Diatas kanan merupakan gambar perkembangan bayi yang diterbitkan oleh salah satu produsen susu bayi.

______________________________________________________________________

Virus Rubella Ancam Janin Ibu Hamil Hindari Tempat Keramaian
Oleh arixs
Senin, 23-June-2008, 14:47:34 670 klik  


KETAHANAN tubuh sangat diperlukan perempuan hamil. Antibodi rendah rentan terjangkit berbagai macam virus. Dampaknya dapat mengganggu perkembangan kesehatan janinnya. 



Menurut ahli kebidanan dan penyakit kandungan dr. I Nyoman Hariyasa Sanjaya, Sp.OG, jika virus menyerang ibu hamil pada trimester pertama, dapat memengaruhi proses pembentukan janin. ”Bisa berakibat bayi cacat saat dilahirkan,” jelasnya. 

Rubella merupakan salah satu jenis virus yang kerap menyerang ibu hamil. Meski infeksi rubella menunjukkan gejala ringan seperti flu, muncul bintik merah di seluruh tubuh, serta sakit kepala. “Gejalanya memang ringan. Ini membuat masyarakat mengabaikan ancaman virus yang satu ini,” tambahnya. 

Janin yang sudah tertular virus yang dikenal dengan sebutan campak Jerman ini akan mengalami gangguan pada proses pembentukan organ tubuh. Sekitar 90% dapat berpotensi bayi lahir tidak sempurna. Virus rubella bahkan dapat mengakibatkan ibu hamil keguguran. 

“Jika virus tersebut menyerang ibu dengan kehamilan di bawah 12 minggu, terutama 8 minggu pertama, tingkat keparahan cacat bawaan lebih tinggi dibandingkan virus rubella masuk pada usia kehamilan yang lebih lanjut,” paparnya. 

Virus rubella biasanya masuk lewat darah ibu hamil. Virus ini lalu melewati plasenta, bahkan dapat langsung mengenai janin. Virus otomatis mengganggu janin yang sedang tumbuh atau mulai membentuk organ vital, termasuk pembentukan sususan saraf pusat atau otak. 

Gejalanya hampir 2/3 pasien mengalami keluhan yang ringan meskipun virus telah berada di darah (subclinicle viremia) yang mengancam terjadinya infeksi pada janin. Beberapa kelainan yang biasanya dialami janin yang terjangkit virus rubella, antara lain bayi lahir dengan kerusakan mata, jantung mengalami kebocoran di katup atau tersumbatnya pembuluh darah paru-paru. 

Bayi juga dapat mengalami gangguan pendengaran karena sensor saraf di otak terganggu, kerusakan dalam sistem saraf pusat, infeksi di selaput otak dan jaringan otak yang menyebabkan keterbelakangan mental. Bayi yang dilahirkan bisa mengalami perubahan abnormal di tulang. Hal ini mengganggu pertumbuhan bayi. 

Penularan virus rubella mirip influenza, yakni disebarkan lewat udara. Virus ini biasanya menginfeksi tubuh melalui pernapasan seperti hidung dan tenggorokan. “Kami sarankan ibu hamil menghindari tempat-tempat keramaian, seperti supermarket, pasar, dan rumah sakit. Tempat-tempat ini rentan menyebarkan beragam virus berbahaya,” sarannya. 

Pencegahan penularan virus rubella disarankan dapat dilakukan dengan meningkatkan antibodi. Imunisasi Imunoglobulin G (IgG) untuk screening virus rubella penting dilakukan. 

“Jika pada screening tersebut dalam darahnya ditemukan IgG rubella dengan kadar cukup besar, berarti tak perlu dilakukan vaksinasi karena telah memiliki antibodi yang cukup bagus. Sebaliknya, jika IgG ditemukan dengan kadar rendah, perlu dilakukan imunisasi rubella,” jelasnya. 

Tubuh manusia telah mempunyai kemampuan untuk menghancurkan virus yang masuk dalam tubuh. Jika daya tahan tubuh bagus, virus apa pun sulit menyerang tubuh. 
Pada anak-anak pemberian imunisasi yang telah digabungkan dengan MMR (mumps, measels, dan rubella) juga perlu dilakukan guna menghindari berbagai kemungkinan penularan virus. 

Jenis virus rubella masuk dalam kelompok TORS seperti HIV, hepatitis. “Orang dewasa dan anak-anak tak terlalu mengkhawatirkan. Namun, rubella menjadi virus dahsyat jika menyerang ibu hamil,” ujar Hariyasa. —lik